Baca Rules Sisi Kiri Dengan Cermat

Baca Rules Sisi Kiri Dengan Cermat
Showing posts with label jaman_doeloe. Show all posts
Showing posts with label jaman_doeloe. Show all posts

Friday, December 29, 2017

Bupati Madiun Brotodiningrat Tercatat Pertama Kali Memakai Pengacara dan Jurnalis Melawan Belanda

Sebuah kisah tentang Bupati Madiun Brotodiningrat, atau mantan Bupati Sumoroto ke 4. Kisah Brotodiningrat ini diceritakan kembali oleh sejarawan Ong Hok Ham dalam esai panjangnya yang diterbitkan Yale University Press, The Inscrutable and the Paranoids: An Investigation into the Sources of the Brotodiningrat Affair (1978).

Brotodiningrat, menurut Ong, adalah pejabat pribumi pertama kali yang menggunakan jasa pengacara dalam berperkara dengan pejabat Eropa) dan bekerja sama dengan beberapa wartawan untuk membuat opini publik di surat kabar agar mempengaruhi suara khalayak luas khususnya di Batavia pusat pemerintahan.

Brotodiningrat kemudian wafat dan dimakamkan di pesaeran Astana Srandil di Sumoroto Ponorogo Jatim. Hingga sekarang, Srandil dijadikan situs sejarah oleh Pemkab Ponorogo.

Kisah Brotodiningrat.

----------

https://tirto.id/isu-makar-dalam-pertarungan-residen-sinting-vs-bupati-apes-cxJ7


Reporter: Ivan Aulia Ahsan

Isu Makar dalam Pertarungan Residen Sinting vs Bupati Apes

tirto.id - Suatu pagi, sesaat setelah bangun tidur, Residen J.J. Donner kaget bukan kepalang. Barang-barang di rumahnya hilang tanpa bekas. Taplak meja, gelas, vas bunga, dan benda-benda lain tidak terlihat lagi di tempatnya. Pada malam 6 Oktober 1899 itu, komplotan maling berhasil menggasak rumah Tuan Residen.

Ada satu benda kesayangannya yang juga ikut lenyap: selembar kain gorden di ruang tempat ia biasa sarapan pagi bersama keluarga. Lenyapnya gorden itulah yang membuat Tuan Residen murka.

Instingnya sebagai birokrat kolonial berpengalaman segera bekerja. Donner, yang saat itu berada di puncak karier sebagai Residen Madiun setelah tiga puluh tahun mengabdi, merasa pencurian itu bukan tindakan kriminal biasa. Ia mencurigai ada motif politik di baliknya, dengan tujuan meruntuhkan wibawa dan mempermalukan pejabat kolonial tertinggi di karesidenan tersebut. Dengan kata lain, pencurian itu adalah subversi (baca: Salah Kaprah Istilah Makar).

Donner dengan cepat memerintahkan Bupati R.M.A. Brotodiningrat, bawahan langsungnya di Kabupaten Madiun, untuk menghadap. Di depan bupati, ia menyatakan bahwa ada upaya menjatuhkan martabat pemerintah kolonial dengan tindakan lancung menggarong rumah seorang residen. Tak cukup hanya itu, ia juga berterus terang menuduh Brotodiningrat sendirilah orang yang patut dicurigai sebagai sumber subversi.

Di titik inilah cekcok antara residen dengan bupati mulai terpantik. Secara tidak langsung, ini juga sebenarnya menjadi simbol pertentangan dan kecurigaan terus-menerus di antara korps Binnenlandsch Bestuur (Pegawai Eropa) dan Inlandsche Bestuur (Pegawai Pribumi).


Kisah Brotodiningrat ini diceritakan kembali oleh sejarawan Ong Hok Ham dalam esai panjangnya yang diterbitkan Yale University Press, The Inscrutable and the Paranoids: An Investigation into the Sources of the Brotodiningrat Affair (1978). Dengan melacak arsip-arsip kolonial akhir abad ke-19, Ong berhasil menemukan suatu fragmen kisah unik yang menggambarkan bahwa kericuhan politik zaman itu bisa saja dipantik dari sesuatu yang remeh-temeh. Mencerminkan betapa paranoidnya kekuasaan kolonial terhadap gerakan politik kaum pribumi.

Paranoia Kekuasaan Kolonial

Selama paling tidak tujuh dekade terakhir, Jawa berada dalam kondisi relatif aman. Perang Jawa (1825-1830) adalah peristiwa terakhir ketika rakyat jelata bersatu dengan para ulama dan bangsawan untuk berperang melawan Belanda.

Memang terjadi banyak pemberontakan petani selama paruh kedua abad ke-19, tapi gerakan-gerakan itu relatif bisa dipadamkan dengan mudah tanpa peperangan. Bagi pemerintah kolonial, Perang Jawa merupakan peristiwa traumatik yang sebisa mungkin dipadamkan sebelum membesar.

Dalam kondisi psikologis macam itu, Donner mengambil kesimpulan awal — tanpa pembuktian yang kuat — bahwa Brotodiningrat merancang plot untuk mengobarkan Perang Jawa kedua. Jelas ini tuduhan yang luar biasa serius. Tuduhan itu terasa sensasional, bahkan jika dilihat dengan ukuran zaman ini.

Donner menganggap Brotodiningrat tidak hanya memiliki jaringan bawah tanah dengan para jagoan lokal di Madiun, tapi juga berhubungan langsung dengan keturunan pemimpin pemberontakan Diponegoro. Lebih dahsyat lagi, ia dituduh menjalin hubungan dengan jaringan internasional anti-Barat yang hendak mengusir Belanda dari tanah Jawa. Salah satunya dengan Kekhalifahan Ottoman dan gagasan Pan Islamisme.

Seorang bupati di sebuah kabupaten terpencil di pedalaman Jawa mempunyai jaringan internasional sehebat itu. Bayangkan! Sang Residen tampaknya sedang bermain-main dengan khayalannya sendiri.

“Fantasi pejabat kolonial itu (Donner) memang tidak mengenal batas,” tulis Ong Hok Ham.

Sumber Tirto.id


Beberapa hari kemudian, Donner menulis laporan kepada Gubernur Jenderal di Batavia. Laporannya panjang dan detail, sampai ratusan halaman, juga ditambahi bumbu-bumbu konspirasi Brotodiningrat sesuai dengan fantasinya. Gubernur Jenderal Willem Rooseboom terkejut dengan laporan panjang itu, sekaligus terkesan dengan “analisis” Donner. Begitu pula Raad van Indie (Dewan Hindia) yang lantas mengusulkan agar dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

Brotodiningrat dongkol atas tuduhan semena-mena itu. Ia berinisiatif melakukan penyelidikian sendiri. Selama satu bulan, ia menggerakkan jaringan weri (mata-mata lokal) untuk menginvestigasi siapa yang berani-beraninya mencuri barang di kediaman Tuan Residen dan membuatnya terancam masalah besar. Si maling akhirnya ditemukan dan dibawa ke rumah Residen.

Tapi kecurigaan kadung menutupi akal sehat Donner. Temuan Brotodiningrat tidak dianggap dan malah semakin keras menuduh. Pandangan Donner diperkuat laporan lain dari jaksa wilayah yang menyatakan Brotodiningrat terindikasi kuat berada di belakang aksi kriminal tersebut.

Tepat pada situasi macam ini, intrik-intrik mulai menemukan tempatnya yang paling liar. Donner menyurati Gubernur Jenderal untuk meminta agar Brotodiningrat dan keluarganya dibuang ke luar Jawa agar penyelidikan yang obyektif bisa dilakukan. Ia juga menghasut bupati-bupati lain di Karesidenan Madiun untuk mengucilkan Brotodiningrat.

Sang Bupati, sementara itu, tidak tinggal diam. Ia melawan usulan Donner dengan cara-cara modern yang mungkin tidak pernah dibayangkan para pejabat di Batavia: menyewa pengacara profesional (berdasarkan catatan kolonial, inilah untuk pertamakali seorang pegawai pribumi menggunakan jasa pengacara dalam berperkara dengan pejabat Eropa) dan bekerja sama dengan beberapa wartawan untuk membuat opini publik di surat kabar.

Salah satu wartawan yang mengangkat isu ini dalam surat kabar adalah Tirto Adhi Soerjo. Dalam rubrik “Dreyfusiana” di koran Pemberita Betawi, ia menurunkan serangkaian reportase tentang kasus ini dan menyuarakan ketidakadilan yang dialami Bupati Madiun.

Brotodiningrat secara terang-terangan menuduh Residen Donner telah melakukan fitnah agar dirinya diseret ke pengadilan dan mencemarkan nama baiknya. Bahkan, ia juga mengirim nota pembelaan kepada Ratu dan Parlemen Belanda di Den Haag.

Tapi bagaimana pun juga, privelese pejabat Eropa lebih penting dari suara seorang bupati pribumi. Batavia mengabulkan permintaan Donner. Brotodiningrat dibuang sementara ke Padang pada 1900 lewat mekanisme kekuasaan istimewa (exhorbitante rechten) yang dimiliki Gubernur Jenderal.

Batavia sebenarnya kebakaran jenggot menghadapi drama residen versus bupati ini. Bagaimanapun juga, para pejabat di Batavia harus menghadapi kenyataan bahwa Brotodiningrat Affair telah menjadi bola liar di masyarakat akibat pemberitaan semakin ramai. Hal yang mati-matian dipertahankan Batavia cuma satu: kewibawaan pemerintah kolonial jangan sampai jatuh.

Karena itulah Batavia mengirimkan penasihatnya yang paling mumpuni, Profesor Snouck Hurgronje, untuk melakukan penyelidikan ulang. Snouck kemudian tidak menemukan fakta apapun tentang konspirasi mengobarkan “Perang Jawa kedua” atau mengusir Belanda dari Jawa.

Ia hanya mengusulkan agar Brotodiningrat dipecat dan dilarang tinggal di Madiun. Perseteruannya dengan Residen Donner telah diketahui secara luas oleh publik. Kewibawaan pemerintah terancam. Apalagi jika kelak terbukti bahwa Sang Bupati tidak bersalah.

Menuruti nasehat Profesor Snouck Hurgronje, Batavia memanggil Brotodiningrat pulang dan memecatnya. Bupati apes ini kemudian memilih Yogyakarta sebagai “tempat pembuangan” karena ia masih terhitung memiliki pertalian keluarga dengan Paku Alam. Pemerintah tetap memberikan uang pensiun yang layak dan berjanji bahwa anak-anaknya tidak kehilangan hak dalam suksesi bupati di Karesidenan Madiun.

Nasib Donner? Ia masih diliputi paranoia meski musuhnya telah dipecat dan tetap melontarkan tuduhan-tuduhan yang mengada-ada. Ia juga masih rewel menuntut pemerintah agar menyelidiki ulang komplotan-komplotan jahat di wilayahnya.

Snouck Hurgronje lalu diperintahkan datang lagi ke Madiun pada Desember 1902. Hasil penyelidikannya pun tetap sama. Tapi kali ini, dalam laporannya, Snouck menambahkan: “Residen telah mencapai titik nervous breakdown sehingga lebih baik dipensiunkan atau dipindahkan.”

Maka pada suatu siang bulan Januari 1903, J.J. Donner, Residen Madiun yang telah bekerja tiga dasawarsa lebih untuk Kerajaan Belanda, akhirnya diberhentikan. Ia pensiun sembari berkalung Orde van Oranje-Nassau—lambang pengabdian kepada Sang Ratu—di dadanya. Pemerintah kemudian mengirimnya pulang ke kampung halamannya. Sejak itu, Donner tak pernah kembali. 

Monday, July 3, 2017

Langka, Foto Utuh Sebadan KH Hasyim Asy'ari.

Termasuk langka menemukan foto utuh sebadan dari hadratus syeh KH Hasyim Asy'ari.

Kali ini muncul foto utuh ulama besar pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dari koleksi pribadi dilingkungan keluarga beliau. Sayang kondisinya tidak begitu bagus. Foto tua selaiknya mendapatkan langkah serius dalam restorasi agar dapat menjadi catatan sejarah dimasa depan. Ini penting menjadi catatan sejarah pergerakan kebangsaan Indonesia dimasa silam, dan geliat pertumbuhan pesantren dari masa kemasa.

Foto dibawah ini sudah mengalami proses retouching standar agar secara visual lebih menarik dipandang mata. Foto asli diambil dari sumber facebook (Klik link)
* Mohon foto jangan dihilangkan sumber aslinya


Sumber FB: Cerita Para Wali

Sedang ramai foto ini. 11 tahun yang lalu, sebelum KH. Yusuf Hasyin wafat, beliau mengajak saya ke ndalem ijo yang tepat berada diutara rumah orang tua saya. Di ndalem ijo itu, beliau menunjukkan sebuah foto ukuran besar dan beliau berkata "Ini foto kiai Hasyim". Kebetulan yang ditunjukkan tidak seutuh seperti dalam foto yang baru saja muncul dimedsos. Beliau juga berkat bahwa foto inilah yang paling beliau suka.

Beberapa bulan sebelum wafat, kiai Khotib Umar Jember, berkesempatan mampir kerumah dan memberikan foto yang sama dgn milik KH. Yusuf Hasyim.

Akhirnya, muncul pula yang utuh dan syukran kepada yang menguploadnya.

Konon, foto tersebut diambil diam-diam karena kiai Hasyim infonya tidak suka berfoto. Sama dgn menantu beliau kiai Maksum, pengarang amtsilatut tasrif, yang membakar semua foto dirinya sebelum wafat.

Tentang lokasi, tidak diketahui pasti. Tapi jika kembali ke Tebuireng tempo dulu, komplek F, G, H, I dan lainnya yang berada diselatan masjid, mempunyai bentuk pintu model kupu tarung. Sekarang yang tersisa hanya komplek Y dan K yang pintunya msh seperti itu. Pertanyaannya, apakah komplek2 itu sudah ada sejak jaman kiai Hasyim?

Jika tidak, pikiran saya melayang ke Pesantren Salafiyah di Kapu Kediri tempat mertua beliau kiai Hasan Muhyi tinggal. Dibangunan diutara masjid Pondok Kapu, ada bangunan yang sangat mirip dgn yang ada dalam foto ini. Bangunan itu skrg masih ada dan menjadi madrasah diniyah.

Wallahu a'lam bisshowab.

Sumber: Kyai Agus M Zaki (Cucu Hadrotussyaikh Hasyim Asy'ari)

Thursday, August 18, 2016

Micro bis ini sempat menguasai jalanan disini Mercedes-Benz O 319

Mercedes-Benz O 319 adalah mobil micro bus ukuran sedang, mirip mobil VW Combi
Dia pernah masuk ke Indonesia tahun 1970an dan menguasai jalanan kota dan antar kota disini. Tahun 1990 an Mercedes-Benz O 319 masih terlihat memenuhi terminal bis kecil dijalur Kerawang Jabar dan melayani rute antar Kabupaten disana. Ketika melihat ini di terminal bis Kerawang (era 90an) disempatkan mampir kedalamnya dan membuat beberapa shot foto. Sayangnya, micro bus yang menjadi angkutan bis di Kerawang dulu itu interiornya dan tampangnya sudah amburadul, maklumlah angkutan umum disini biasanya mmg jelek. Sekarang bis ini sudah lenyap dijalur Kerawang, peremajaan dan perda lokal mengharuskan mobil yang muda dan fit. **** hsgautama.blogspot.co.id

Source
http://forums.pelicanparts.com/off-topic-discussions/685240-mercedes-microbus-o-319-a.html
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Mercedes-Benz_O_319.jpg
https://www.myvan.com/history/mercedes-benz-o-319-oldtimer-bus/
http://bit.ly/2be1u72
http://www.classicweissblau.de/index.php?id=66
https://www.myvan.com/history/mercedes-benz-o-319-minibus/#!







Saturday, August 6, 2016

Berhenti sejenak di Mesjid Kramat Luar Batang Jakarta

Baru tiga kali badan ini mengunjungi mesjid Kramat Luar Batang ini. Pertama kali kemari waktu masih SD yakni sekitar era 70 an, diajak almarhum Bapak kemari. Memori dikepala susah payah mengingat kembali apa yang pernah dilihat tahun 70an dilokasi ini, sepertinya sudah banyak sekali perubahan besar disana sini.  Pada kedatangan yang ketiga ini kebetulan punya waktu cukup banyak dan bisa memperhatikan semua detail ruangan didalam mesjid ini.
Didalam area mesjid ini juga dimakamkan salah satu tokoh ulama bernama Al-Habib Husein Bin Abubakar Alaydrus  atau dikenal sebagai Habib Keramat Luar Batang. Dia seorang ulama kharismatik dimasa itu, dan ini membuat pemerintah VOC di Batavia tidak suka dengan dia karena dicurigai membantu kelompok pejuang Hizbullah anti Belanda. Lokasi kediaman dan mesjid Habib Husein memang berada ditengah tengah kepungan pemukiman sentral komunitas Belanda di Jakarta Utara, dekat sekali dengan kantor pusat pemerintahan (sekarang gedung museum Fatahilah). Bisa dibilang, basis Islam terkuat diibukota dan satu satunya "tepat didalam jantung disarang macan" cuma area kediaman Habib Husein. Cerita mengenai Habib Husein dan Mesjid Keramat Luar Batang bertebaran sangat banyak di Google, baik dari sisi sejarah, sisi agama, sampai soal karomah aneh Habib Husein dimasa silam ***** hsgautama.blogspot.co.id




Thursday, May 5, 2016

Pangeran Jayakarta Membangun Mesjid Ini di Tahun 1620

Salah satu hobi sejak kecil adalah mendatangi mesjid mesjid tua, dikota manapun pasti akan mencoba mencari mesjid tertua yang ada disana. Diluar negeripun selalu menyempatkan diri mencari mesjid  tertua disana atau mesjid utamanya, jika memang ada maka layak didatangi.

Kota Jakarta sendiri punya beberapa mesjid tua yang penuh cerita sejarah. Salah satunya mesjid Jami' Assalafiyah yang dibangun oleh Pangeran Jaketra atau dikenal luas sebagai Pangeran Jayakarta. Mesjid ini dibangun tahiun 1620 dan sekarang letaknya di Jatinegara Kaum, Jakarta. Mesjid aslinya kecil, tiang kayu utama ada 4 buah sampai sekarang masih asli sampai keatap kayunya. Lalu dilakukan perluasan ditahun kedepannya. Jadi bentuk kayu aslinya masih bisa kita lihat dan pegang langsung. Tiang kayu itu lantas dijejerin dengan tiang baru dari beton besar agar diperkuat supaya sesuai dengan tuntutan usianya yang kian sepuh.

Seperti ciri mesjid tua, dijaman dulu dibangun dengan luas yang tidak seberapa, hanya melayani beberapa umat muslim yang shalat dan kepentingan dakwah. Sejalan dengan waktu lantas mengalami perluasan demikian juga mesjid ini. Disamping luar mesjid akan ada makam yang dipercaya merupakan pusara dari Pangeran Jayakarta dan penerusnya. Area makam ini dibangun rumah terbuka dan bisa dengan bebas didatangi oleh siapapun yang hendak ziarah kedalam sana. Seluruh area ini sudah masuk dalam cagar budaya dan dilindungi UU Purbakala, salah satu jejak sejarah kota Jakarta tua yang masih ada sampai sekarang. Tempat ini bisa menjadi wisata relijius bagi muslim yang ingin berkunjung **** hsgautama.blogspot.co.id

Peta: http://bit.ly/1YaBFE7





Saturday, March 26, 2016

Kisah topeng Malangan ditahun 1890 ke 1900 an

Hasil riset tentang kota Malang ada satu data yang cukup menggelitik untuk disimak, yakni masa ketika pertama kali wilayah Malang mengalami pemekaran di era 1890 an, dan dijaman ini topeng malang dikembangkan dengan lebih rapih. Dimasa ini Malang mengalami pertumbuhan besar dan menggeliat secara ekonomi dan politk yang terus berlanjut saat perang kemerdekaan dijaman penjajahan Belanda hingga penjajahan Jepang sampai kemerdekaan. Malang ditahun 1890 dipegang oleh bupati ke 4 yakni Raden Adipati Soerjoadiningrat II 1898-1934 (atau RAA Soerioadiningrat ke 2, atau nama aslinya Raden Bagoes Mohammad Sarip). Dibawah RAA Soerioadiningrat 2, kesenian topeng Malang mengalami kemajuan yang bagus dan diberikan standarisasi yang lebih baik. Soerjoadiningrat yang juga membangun mesjid jami' Malang raya ini, dia bersama abdi dalemnya dikabupaten yang juga seorang dalang Topeng Malang yakni Mbah Reni kemudian memajukan kesenian topeng Malang dan dijadikan acara kesenian resmi di Kabupaten Malang.

Sumber foto:
* Milik keluarga Brotodiningrat
* Koleksi KITLV

Sumber link:  1,   2,

Rangkuman dari link diatas:
Topeng Malang menurut sahibul hikayat muncul dijaman raja Airlangga. Lalu kesenian ini tetap eksis dijaman Ken Arok berkuasa di Singasari.
Berdasarkan beberapa catatan sejarah, Topeng Malang adalah sebuah kesenian kuno yang usianya lebih tua dari Kota Malang rumah tinggalnya kini. Berita tentang adanya istilah drama tari topeng atau atapukan dimuat dalam prasasti Jaha yang berangka tahun 762 Saka atau 840 masehi masih menggunakan sumber lakon dari Epos Ramayana gubahan dinasti raja-raja mataram Kuno abad VIII.
Pada masa kejayaan kerajaan Singasari sewaktu pemerintahan Kertanegara muncul cerita baru dalam seni pertunjukan Topeng yaitu Sastra Panji, abad XIII. Murgiyanto dan Munardi dalam penelitiannya menyebutkan bahwa awal mula dikenalnya tari topeng di wilayah Malang terjadi pada abad ke-13 Masehi, yaitu pada periode pemerintahan raja Kertanegara . Sejak saat itulah seni tari topeng yang berada di daerah Malang dinamakan sebagai tari Topeng Malang.
Adapun bukti mengenai keberadaan tari topeng di masa kerajaan Singosari adalah adanya relief di beberapa
candi peninggalan kerajaan Singosari. Dalam relief tersebut para penari topeng memakai atribut endhong (sayap belakang), rapek (hiasan setengah lingkaran di depan celana, lazim juga disebut pedangan), bara-bara dan irah-irahan (mahkota) yang bentuknya sama dengan kostum tari topeng di masa sekarang.
Menurut catatan Murgiyanto, komunitas tari topeng modern yang tertua adalah di wilayah Tumpang. Kemunculan komunitas ini diawali oleh pengembangan kesenian tari topeng di wilayah kecamatan Tumpang pada pertengahan abad 19-an oleh Mbah Rusman yang terkenal dengan nama Kik Tirto. Nama ini merujuk pada nama Tirtowinoto, dan arti kata “Kik” adalah bapak sehingga nama Kik Tirto berarti bapak dari Tirto . Sekarang di wilayah Tumpang hanya ditemui paguyuban seni tari Mangun Dharmo pimpinan Karen Elizabeth (Ki Soleh)  di desa Tulus Besar dan Sri Margo Utomo di desa Glagah Dowo pimpinan Rasimoen.

Menurut data tertulis serta penuturan dari nara sumber, bahwa antara akhir abad XIX sampai XX di kenal seorang seniman tari dan pengukir topeng yang sekaligus dalang topeng yang bernama Kik Reni (kakek Reni). Pada masa mudanya ia bernama Tjondro. Ia termasuk pegawai rendah (abdi dalem) di lingkungan Kadipaten Malang. Rumahnya di desa Polowijen sebelah selatan Singosari (sekarang kelurahan Polowijen Kecamatan Blimbing kota Malang) (Pegaut, 1938).
Nara sumber mantan murid-murid Kek Reni mengatakan bahwa beliau (Kek Reni) bertugas sebagai dalang wayang topeng di Kabupaten Malang pada jaman Bupati Kanjeng Suryo (yang dimaksud adalah bupati ke 6 bernama Suryo Adiningrat yang menjabat tahun 1898-1934). Pada waktu itu pertunjukan topeng dinyatakan sebagai pertunjukan resmi di pendopo Kabupaten Malang (Supriyanto, 1994:7).

Secara khusus Ong Hok Ham menceritakan tentang Reni yang berkaitan dengan tokoh wayang topeng dari Desa Polowijen, seperti dalam kutipan di bawah ini:
In the 1930's a well to do peasant calletl Reni liveed in this village, he was one of the greatest topeng carvers of the Malang style and led one of the best wayang topeng troupers of his time. In today’s woyang topeng world of Malang the village of Polowidjen is best known as Reni's village. ln his day the wayang topeng
achieved one of its high points. This development was certainly partly due to the patronage of the then bupati of Malang, R.A.A. Soeria-adiningrat, who supplied Reni with his matriali (gold laef, , good paint, wood) and helped set artistik standards (Onghokham. 1972).
Pada tahun 1930-an seorang petani kaya yang bernama Reni tinggal di desa ini (Polowidjen). Dia adalah salah satu pembuat topeng terbesar gaya Malang dan pemimpin rombongan wayang topeng terbaik pada masanya. Di dunia wayang topeng Malang, kini desa Polowijen terkenal sebagai desa Reni.Pada masanya, wayang topeng mencapai salah satu titik puncak.Perkembangan ini tentu saja sebagian disebabkan oleh sumbangan dari Bupati Malang pada waktu itu, R.A.A. Soerio Adiningrat, yang menyuplai Reni dengan bahanbahannya (lempengan emas tipis, cat yang baik, kayu), dan membantu menetapkan standar artistik.
Sejak masa popularitas Reni, pertunjukan wayang topeng di daerah Malang telah tersebar di banyak tempat, khususnya di desa-desa.

Nara sumber mantan murid-murid Kek Reni mengatakan bahwa beliau (Kek Reni) bertugas sebagai dalang wayang topeng di Kabupaten Malang pada jaman Bupati Kanjeng Suryo (yang dimaksud adalah bupati ke 6 bernama Suryo Adiningrat yang menjabat tahun 1898-1934). Pada waktu itu pertunjukan topeng dinyatakan sebagai pertunjukan resmi di pendopo Kabupaten Malang (Supriyanto, 1994:7).

Secara khusus Ong Hok Ham menceritakan tentang Reni yang berkaitan dengan tokoh wayang topeng dari Desa Polowijen, seperti dalam kutipan di bawah ini:
In the 1930's a well to do peasant calletl Reni liveed in this village, he was one of the greatest topeng carvers of the Malang style and led one of the best wayang topeng troupers of his time. In today’s woyang topeng world of Malang the village of Polowidjen is best known as Reni's village. ln his day the wayang topeng achieved one of its high points. This development was certainly partly due to the patronage of the then bupati of Malang, R.A.A.Soeria-adiningrat, who supplied Reni with his matriali (gold laef, , goodpaint, wood) and helped set artistik standards (Onghokham. 1972).



Pada tahun 1930-an seorang petani kaya yang bernama Reni tinggal di desa ini (Polowidjen). Dia adalah salah satu pembuat topeng terbesar gaya Malang dan pemimpin rombongan wayang topeng terbaik pada masanya. Di dunia wayang topeng Malang, kini desa Polowijen terkenal sebagai desa Reni.Pada masanya, wayang topeng mencapai salah satu titik puncak.Perkembangan ini tentu saja sebagian disebabkan oleh sumbangan dari Bupati Malang pada waktu itu, R.A.A. Soerio Adiningrat, yang menyuplai Reni dengan bahanbahannya (lempengan emas tipis, cat yang baik, kayu), dan membantu menetapkan standar artistik.


Thursday, March 24, 2016

Restorasi foto tua rumah Bale Asri di Kebun Raya Purwodadi Jatim

Rumah ini dulu dibangun oleh Eyang Hoek Samandiman diawal kisaran tahun 1900-an, sebuah rumah dikelilingi lahan kebun yang sangat luas diluar kota Malang, tepatnya di Purwodadi menuju ke Pasuruan Jatim. Belakangan pemerintah meminta lahan disini untuk dijadikan kebun raya Purwodadi, dan tanahnya diberikan ganti rugi dengan perkebunan apel di desa Punten, kota Batu (sampai sekarang masih ada bangunan lamanya dan menjadi sekretariat Svaraseni Nusantara).
Kebun raya Purwodadi adalah merupakan kebun raya yang merupakan saudara dari kebun Raya Bogor dan Kebun Raya Bedugul Bali. Jadi secara fungsi perannya sangat vital sebagai "bank penyimpanan" keaneka ragaman tumbuhan tropis khusus Indonesia. Bisa dibilang. Kebun Raya Purwodadi termasuk kebun raya tua yang pernah dibuat dinegara ini setelah Kebun Raya Bogor. Dia menjadi sister botanical park dalam mata rantai utuh dengan saudara saudara lainnya sesama kebun raya ditanah Jawa, dan juga seluruh Indonesia.

Foto tua ini didapat dari keluarga keturunan Eyang Hoek, difoto oleh Eyang Soerjo Poetranto Mangoennegoro. Sekian puluh tahun tersimpan dialbum keluarga dan kondisinya cukup rusak. Setelah direstorasi akhirnya visualnya bisa menjadi lebih baik. Proses restorasinya cukup melelahkan karena tersebar merata dalam flek cacat micro disana sini. Butuh 60jam kerja merestorasi foto ini sampai dikondisi terbaiknya.    *** hsgautama.blogspot.com




Monday, December 21, 2015

Mampir kepesarean Astana Srandil Sumoroto Ponorogo

Menyempatkan diri mampir sejenak di pesarean Srandil Sumoroto Ponorogo, untuk ziarah kemakam disini. Mungkin sudah 12 tahun lebih gak kemari, mumpung lewat jadilah mampir sejenak disatu sore yang teduh karena mendung.

Kompleks pemakaman Astana Srandil Sumoroto termasuk situs sejarah yang dilindungi oleh negara. Cerita mengenai siapa yg dimakamkan dipesarean ini cukup beragam versinya dan sudah diulas banyak orang yang dengan mudah dicari di Google (sebagian kecil dikopas dibawah ini, bisa dibaca, semoga tidak salah wallahu'alam).

Salah satu tokoh yang dimakamkan disini adalah Adipati Brotodiningrat, mantan Bupati Sumoroto ke 4. Bupati Brotodiningrat menurut cerita salah satu cucunya, dikenal sebagai manager (administratuur) yang bertangan dingin membereskan persoalan lokal diwilayah pemerintahannya.

Belanda tidak suka dengan dia karena dia disebut menentang tanam paksa (termasuk Bapaknya) dan dicatat sebagai bupati yang digdaya sakti dan dipatuhi oleh para jagoan lokal (kelompok warok, gank centeng, klan lokal) disepanjang wilayah Ponorogo Madiun. Pengaruhnya yg kuat dikelompok lokal ditakuti memicu perlawanan terhadap penjajah. Namun, dia juga disukai karena brilian membereskan persoalan kelaparan, menumpas kejahatan lokal, dan mendongkrak ekonomi rakyat yang dimasa itu termasuk dijaman serba susah.

Daerah Ponorogo Madiun tercatat pernah menyumbangkan individu tangguh melawan terhadap penjajah dan terlibat dalam perang Jawa yang panjang dan melelahkan. Wilayah ini bisa disebut kantong pemberontak dimata penguasa dijaman itu. Salah satu sejarahwan senior (alm) pernah menyebutkan bahwa Bupati Brotodiningrat adalah termasuk orang yang mendorong ide ekonomi pertanian kerakyatan melawan tanam paksa Belanda, dijaman itu ide ini termasuk radikal berbahaya.

Karirnya sempat berpindah penugasan kewilayah lain, dia dipindahkan agar membereskan masalah lokal disana karena tangan dinginnya sebagai manager yang baik membereskan masalah ekonomi dan pangan. Pendek kata, dia dibenci dicurigai, tapi juga dibutuhkan. Namun disebutkan, hatinya tetap ingin menetap di Ponorogo saja.  Bupati Brotodiningrat kemudian mempunyai anak, salah satunya adalah RM Harsojo Brotodiningrat (mantan Bupati Madiun) yang kemudian wafat dikuburkan bersama istrinya di Pesarean Pangeranan Gebang Blitar (pemakaman keluarga dari pihak istrinya yang merupakan cucu dari KP Warsokoesoemo Blitar dan RAA Nitiadiningrat ke 3 pasuruan).


Satu hal yang menarik, dikompleks makam Srandil ini selain dimakamkan Bupati Sumoroto, ternyata juga ada makam Warok Singomenggolo diarea dalam kompleks makam. Lalu disisi luar kompleks juga ada makam warok Potromenggolo. Keduanya cukup legendaris dan namanya sering dipakai sebagai imbuhan oleh grup reog Ponorogo modern hingga sekarang. Sayangnya tidak ada catatan sejarah tertulis mengenai ini, cuma ada sejarah lisan ditularkan dari mulut kemulut oleh penduduk disana.  *** hsgautama.blogspot.com

-------------
Secara geneologis, Raden Mas Brotodiningrat Bupati Somoroto IV (foto diatas) ini masih ada keturunan darah raja-raja Madura, terutama dari pihak ibu, yaitu keturunan Sultan Bangkalan I. Sultan Bangkalan I memiliki anak yang bernama Raden Ayu Andajasmani yang menjadi permaisuri dari Sunan Pakubuwono IV raja Surakarta yang kemudian menurunkan Sunan Pakubuwono V. Sunan Pakubuwono V memiliki putra yang bernama Pangeran Sindusenan. Pangeran Sindusenan memiliki putri Raden Ayu yang kemudian menjadi istri dari Raden Mas Brotodirjo Bupati Somoroto III yang menurunkan Raden Mas Brotodiningrat.
Pada waktu ayahandanya Raden Mas Brotodirjo meninggal dunia pada tahun 1855, Raden Mas Brotodiningrat masih berumur 6 tahun. Oleh karena itu pemerintahan di Somoroto diwakilkan kepada patihnya, Raden Mas Sumoatmodjo (1855-1869). Baru pada tahun1869 beliau diangkat sebagai Bupati SomorotoIV sampai tahun 1877. Selama memerintah di Somoroto, tidak ada berita tentang pemerintahannya. Namun yang jelas sejak tahun 1877 Kabupaten Somoroto dihapus yang kemudian digabung dengan Kabupaten Ponorogo Kutho Tengah. Agar tidak terjadi gejolak, Raden Mas Brotodiningrat dialih tugaskan oleh pemerintah Belanda menjadi  Bupati Ngawi, dan beberapa tahun kemudian dipindah menjadi Bupati Madiun. Selama beliau memerintah di Madiun beliau sangat memperhatikan kehidupan rakyatnya. Beliau berhasil menyelamatkan rakyatnya diambang kelaparan. Keberhasilan Bupati keturunan darah Madura tersebut dalam membela rakyatnya dari pihak Belanda mendapat perhatian dari berbagai pihak, terutama dari bupati-bupati yang ada di wilayah Karesidenan Madiun. Bahkan penguasa Kasunanan Surakarta Sunan Pakubuwono VII menganugerahi gelar “adipati” pada sang bupati, sehingga namanya menjadi Raden Mas Adipati Brotodiningrat. Beliau meninggal dunia pada 1927, jenazahnya dimakamkan di Pasarean Srandil.

Kabupaten Somoroto didirikan oleh Raden Mas Tumenggung Prawiradirja, beliau adalah keturunan ke-13 dari Raja Majapahit Brawijaya V. Raden Tumenggung Prawiradirja adalah putra dari Raden Tumenggung Wirareja. Wirareja mempunyai puteri yang bernama  Roro Handawiyah (Roro Berok). Yang kemudian pada tahun 1762 dinikahi oleh Sunan Pakubuwono III dan sekaligus diangkat sebagai istri permaisuri dengan gelar Kanjeng Ratu Kencana.
Pada tahun 1780, putra Raden Tumenggung Wirareja (adik dari Kanjeng Ratu Kencana) yang bernama Prawiradirja diperintahkan oleh Sunan Pakubuwono III untuk membuka (babat) daerah baru di sebelah barat Sungai Sekayu yang dikenal dengan Hutan Kasihan dan Hutan Sambirata untuk mendirikan kota baru.  Disitulah ditemukan tempat yang datar / papan kang waroto wangun mbatok mengkurep (tempat yang datar dan berbentuk tempurung yang tengkurup) yang begitu baik untuk didirikan sebuah kota, oleh karena itu kedua hutan tersebut nantinya diberi nama Somoroto (Samarata). Yang akhirnya Prawiradirja diangkat sebagai bupati di daerah tersebut (Somoroto) dengan gelar Raden Mas Tumenggung Prawiradirja. Selain Prawiradirja, bupati-bupati yang pernah menjabat di Kabupaten Somoroto yaitu Raden Mas Tumenggung Sumonagoro, Raden Mas Brotodirjo, dan Raden Mas Brotodiningrat.
Bupati-bupati Somoroto yang meninggal, selanjutnya dimakamkan di Pasarean (Astana) Srandil yang terletak di Desa Srandil, Kecamatan Jambon atau 11 km ke arah barat Kota Ponorogo menuju Badegan. Pasarean Srandil merupakan kompleks atau himpunan kesatuan dari beberapa makam para keturunan Bupati Somoroto. Jika dibandingkan dengan makam-makam Islam yang ada di Nusantara, Pasarean Srandil termasuk pemakaman yang relatif muda usianya, yaitu dibangun pada abad ke-19. Namun ciri khas sebagai “makam Islam Nusantara” masih tetap melekat, seperti adanya pengaruh budaya asli bangsa Indonesia
budaya Hindhu maupun budaya lokal (Jawa). adanya pengaruh budaya Hindu Budha Jawa masih tetap melekat. Hal ini dapat diketahui dengan adanya kori agung yaitu gapura yang berpintu dan beratap sebagai pintu gerbang tempat keluar masuk makam dari halaman pertama menuju halaman kedua dan ketiga. Kori agung merupakan peninggalan budaya agama Hindu yang berfungsi sebagai pintu gerbang bangunan candi. Setelah Islam mulai berkembang, kori agung dijadikan sebagai pintu gerbang makam dan pintu gerbang masjid. Kori agung (gapura) pada Pasarean Srandil yang atapnya berbentuk “limasan” adalah bukti adanya pengaruh budaya lokal (Budaya Jawa), karena ”limasan” itu sendiri merupakan ciri khas bangunan rumah Jawa selain joglo dan serotong.

Thursday, December 17, 2015

Pesarean Pangeranan Gebang Blitar, Menengok Ruang Pusaka Kabupaten Blitar

Sekali kayuh dua tiga pulau dilalui.

Kemarin sempat bantuin hajatan seniman Jawa Timur ketika ngurus ini itu di Jakarta, sekalian mampir ke Jogja meneruskan urusan komunitas seniman. Lalu sambil jalan, motong jalur kearah Ponorogo dan langsung ke Blitar.

Ketika tiba dikota Blitar, menyempatkan diri mampir ke Pesarean Pangeranan Gebang, Blitar. Setelah selesai main main ke Kadipaten Blitar, menengok ruang Pusaka Kadipaten Blitar. Diruangan ini menyimpan pusaka warisan Bupati Blitar terdahulu sejak jaman KPH Warsokoesoemo dan KPH Sosrohadinegoro dstnya.

Ruangan itu cukup luas dan tidak kecil amat, sebuah ruangan tertutup tanpa jendela. Didalamnya ada lemari menyimpan pusaka keris dan tombak dll. Ada satu item yg berbeda yakni ada satu kursi tua. Kursi ini diberi selendang putih memanjang disandarannya. Menurut cerita kursi ini adalah yang dulu biasa dipakai duduk oleh Bupati Blitar KPH Warsokoesoemo, lalu dipakai oleh Bupati Sosrohadinegoro dstnya. Kata jurukunci ruang pusaka ini, kursi itu gak boleh diduduki, orang umum gak boleh memakai kursi itu sambil menjelaskan alasannya. Lumayan unik ceritanya  :-)

Kota Blitar lebih dikenal dengan keluarga presiden Soekarno. Ditempat ini juga dimakamkan Proklamator itu. Biasanya wisatawan datang kekota ini memang mau pergi ziarah kemakam Bung Karno. Kota Blitar adalah kota kecil yang cukup menyenangkan, jalannya lebar lebar. Salah satu kota yang lumayan tua berkembang sejak era 1800 awal dan masih terjaga hingga kini beberapa aset sejarahnya diantaranya Kadipaten Blitar dan pemakaman keluarga Pesarean Pangeranan Gebang ini. Sejarah Blitar banyak ditulis orang, dan mudah ditemukan di google  *** hsgautama.blogspot.com

http://hsgautama.blogspot.co.id/2014/02/cerita-lain-kelud-2-blitar-dan-cerita.html





Monday, August 31, 2015

Gecong badik tua koleksi pribadi

Obat kangen dengan masa bocah di Makasar, sebuah badik atau gecong tua kolpri,
Gecong sipa sikadong, sumpa buaja, tolongeng, datodato.

Disebutkan dalam sejarah, Kerajaan Majapahit tidak akan sukses membangun angkatan perang untuk menguasai Nusantara tanpa bantuan suplai bijih besi dan Nickel dari Meteorit dari Kerajaan Luwu, Sulawesi Selatan. Besi itu dikirim dari sana ke Jawa untuk diolah menjadi senjata bagi angkatan perang Majapahit. Dijaman itu hubungan Kerajaan Luwu dan Majapahit sangat mesra karena perdagangan besi tersebut.

----------

Pada umumnya masyarakat disana hanya menyukai dan mengetahui beberapa pamor saja seperti Ujung Gunung, Batu Lapak, Qul Buntet, Beras Wutah dan Adeg.
1.  Badik/kawali yang bagus/istimewa dapat dilihat dari beberapa unsur, yakni:

a. Dari segi fisik Badik/ kawali dapat dilihat:
1. Bahan bakunya terbuat dari besi dan baja pilihan biasanya mengandung meteorit dan ringan. Wilayah Sulawesi Selatan sejak zaman dahulu terkenal dengan besi luwu yang berkualitas tinggi.
    2. Pamorragam pamor pada Badik / kawali lebih sederhana dari keris jawa biasanya terdiri dari jenis pamor kurrisi, lasoancale, parinring, bunga pejje, madaongase, kuribojo, tebajampu, timpalajja dan balopakki.

b. Segi sisi’ (tuah) / mistik antara lain:
1. Uleng puleng dan battu lappa, sebenarnya merupakan kandungan meteorit. Bagi sebagian orang percaya Badik/kawali yang mempunyai ulengpuleng (kalau kecil) / battu lappa (kalau besar) akan membawa kebaikan pada pemiliknya baik berupa kemudakan rezki, karisma, maupun peningkatan karir. Posisi ulengpuleng / battulappa yang dicari adalah yang terletak dipunggung badik kira-kira berjarak 5 cm dari hulu / pangulu karena dipercaya akan memudahkan rezki dan karir. Badik/kawali yang memiliki ulengpuleng dan battulappa juga dipercaya dapat menghindari gangguan mahluk halus, sihir dan tolak bala.
2. Mabelesse adalah retakan diatas punggung Badik / kawali sehingga seakan-akan Badik/kawali tersebut akan terbelah dua. Badik seperti ini dipercaya akan memudahkan rezki bagi pemiliknya sehingga banyak dicari oleh yang berprofesi sebagai pedagang.
3. Sumpang buaja sama seperti mabelesse cuma retakannya pada bilah dekat ujung Badik / kawali. Tuahnya sama seperti mabelesse namun yang dicari yang letaknya pada bilah sebelah kanan dekat ujung Badik / kawali.
4. Ure tuo adalah garis yang muncul pada bilah Badik/kawali. Yang dicari adalah yang tidak terputus-putus, kalau letaknya dipunggung Badik/kawali dan tidak terputus dari hulu sampai ujung tuahnya membuat sang pemilik disegani dan dituruti semua perkataannya, kalau melingkar ke atas dari bilah ke bilah sebelahnya seperti badik luwu sambang maka tuahnya untuk melindungi pemiliknya dari malapetaka dan kalau turun ke baja maka untuk memudahkan rezki.
5. Tolongeng adalah lubang pada punggung Badik/kawali yang tembus ke bawah terletak dekat hulu / pangulu sehingga kalau dilihat seakan seperti teropong. Pada zaman dahulu sebelum berangkat perang biasanya panglima perang meneropong pasukannya melalui Badik/kawali tolongeng.
6. Sippa’sikadong adalah retakan pada tengah bilah Badik / kawali dari punggung Badik/kawali. Tuahnya adalah membuat pemiliknya disenangi oleh siapa saja yang melihatnya. Pada zaman dahulu apabila ada seseorang akan melamar gadis, maka utusan dari laki-laki akan membawa Badik/kawali sippa’sikadong yang bertujuan agar memudahkan lamarannya diterima pihak perempuan
7. Pamussa’ adalah upaya memperkuat daya magis Badik / kawali yang diletakan dalam hulu / pangulu Badik/kawali. Biasanya dengan menggunakan bahan-bahan tertentu tergantung akan digunakan untuk apa Badik/kawali yang akan di beri pamussa
8. Pangulu di kalangan masyarakat bugis Bone berkembang suatu keyakinan  akan kemampuan yang dimiliki sebagian orang yang mampu membuat pihak  lawan tidak mampu mencabut Badik/kawali ketika akan digunakan, ilmu ini dikenal dengan istilah pakuraga / pabinrung. Pangulu yang caredo  (terbelah/atau memiliki mata) secara alami dipercaya mampu mengatasi orang yang memiliki ilmu tersebut.

2. Dari segi bentuknya Badik ada 2 macam yang umum yaitu:
a. Badik Jantung Lompobattang merupakan ciri atau karakter dari suku Makassar dan daerah sekitarnya yang berdekatan. Dinamakan Badik Lompobattang karena bentuknya menyerupai Jantung Pisang.
b. Badik La Gecong merupakan badik yang banyak di gunakan oleh suku Bugis yang bentuknya lebih landai.
   Berat dari Badik yang di anggap baik adalah yang ringan. Terkadang kita suka  terkecoh karena melihat bentuknya yang tidak seimbang dengan beratnya. Hal ini disukai karena jenis badik yang ringan lebih praktis dalam hal perkelahian. Penggunaan besi Luwuk sangat digemari oleh masyarakat Bugis Makassar hal ini dikarenakan mereka mempercayai bahwa tuah yang timbul dari besi Luwuk sangat bagus. Besi Luwuk dipercayai dapat menghindari dari serangan binatang buas.
   Disamping kedua jenis Badik di atas tadi, masyarakat Bugis Makassar juga menyukai jenis badik :
a.    -Simpa Siolong / Cappa Sikadong yang ditandai dengan adanya keretakan Pada bagian punggung bilah
b.    Patelongi atau Combong lubang pada dinding bilah
c.    Rakapeng / Matapakato guratan setengah lingkaran pada mata bilah.
   Pada jaman dahulu perkelahian menggunakan Badik adalah dengan cara kedua petarung masuk kedalam Lipa (Sarung) dan mereka beradu saling tikam menikam di dalam Lipa tersebut dan siapa yang keluar dengan selamat maka dialah pemenangnya. Perkelahian di daerah suku Bugis Makassar biasanya terpicu oleh masalah pelanggaran akan Siri dan Pesse (Adat Istiadat Bugis Makassar).
**** hsgautama.blogspot.com

Sumber tulisan: Google
Referensi:
http://historia.id/budaya/desa-pandai-besi-yang-hilang







Jaman SD di Surabaya Tempo Doeloe

Ketika masih sekolah di SD Santo Mikail Surabaya


Thursday, August 27, 2015

Seiko 6138 dan 6139 Chrono beri pengaruh diindustri jam dunia

Jamtangan chronograph didunia ini tidak akan meriah tanpa kehadiran Seiko 6138 dan 6139.

Kedua jenis inilah disebut sebut sejarah sebagai tonggak penting beredarnya jam tangan chrono komersial mass product automatik keseluruh dunia. Awal mulanya adalah diadakan Olympic Game 1964 di Tokyo dimana waktu itu dibutuhkan alat ukur waktu utk panitia dan juri lomba sehingga Seiko membuatkan 1200 timekeeping unit. Lalu, ini berlanjut tahun 1969 dibuat produk jam chrono automatik massal oleh Seiko 6138 dan menjadikan ini sebagai "jam automatik chrono pertama didunia memakai fitur terintegrasi antara coloumn wheel dan mekanisme vertical coupling", desain yang genius dijaman itu. Desain engineering hebat ini membuat Seiko Chrono langsung melejit dipasaran jam dunia di Asia, Eropa dan Amerika. Maklum secara engineering, jam chrono dimasa itu dianggap sebagai rumit dan sulit dibuat. Siapapun yang bisa membuat jam "complicated" dan presisi seperti ini pastilah masuk dalam hitungan pabrikan jam bagus.

Gaya Seiko dijam chrono ini langsung ditiru oleh industri jam Swiss 20 tahun kemudian. Rolex di tahun 2000 dengan mengadopsi mekanisme yang mirip serupa itu, membuat series jam Daytona, ini 30 tahun setelah Seiko membuatnya lebih dulu. Kesuksesan Seiko 6138 disusul oleh Seiko 6139 yang lantas disebut sebut sebagai jam chrono pertama diangkasa luar ketika dipakai oleh pilot astronot tester NASA, Col Pogue.

Jadi siapa bilang Seiko chrono vintage ecek ecek?
Kehadiran dua jenis jam ini memberi dampak besar pada industri jam brand lain di Swiss dan bagian lain. Dia adalah "hadiah peradaban" yang mengesankan. ***hsgautama.blogspot.com






Sunday, August 16, 2015

Sejarah Jam Saku (Pocket Watch) menjadi Jam Tangan (Wrist Watch)

Jam saku atau pocket watch dipercaya keluar sekitar abad ke 15 di Italia dan Jerman. Peter Henlein salah satunya yang tercatat membuat jam saku secara teratur dimasa 1524. Di abad 16, Eropa sendiri sudah banyak jam saku bertebaran disana sini. Jam saku adalah jam dalam ukuran kecil pertama yang bisa dibawa oleh manusia kesana sini. Jam saku dimasa ini dipakai oleh kalangan kaya berduit sampai kepada petugas negara seperti perwira militer. Bentuknya bulat, bisa dilipat ditangan dan memakai rantai kesaku baju. Casing terbanyak memakai perak, lalu ada yang memakai emas ditambahi dekorasi ukiran indah, ada juga dialnya memakai keramik yang cantik. Bahan ini termasuk mewah dijamannya sebagai simbol status pemakainya. Jam saku jenis ini bisa dibuka didepan untuk dialnya, dan dibuka belakang untuk mesinnya dengan sekali sentuh saja.
Secara dimensi, ukuran jam saku era pertama keluar tidak ramping amat. Dia dipakai dengan dikalungkan dileher, tebal gendut dan agak besar dalam kepalan tangan. Jenis ini dikenal dengan nama "Nuremberg Egg" dengan mesin spring drive movement, dibuat oleh ahli jam Peter Henlein (1542). Jam telur Nurember ini keluar dalam 3 jenis berbeda, yakni: berbentuk silindris bulat tebal untuk diletakan dimeja, jenis silindris agak pipih untuk dikalungkan dileher  (Dosenuhr) , dan  terakhir adalah jenis yang lebih kecil lagi untuk dikalungkan atau ditaruh ditangan muncul belakangan.
Setelah masa jam saku, lantas keluar "trench watch" yakni jam yg lebih kecil segenggaman tangan, sebuah spesies baru yang merupakan kawin silang antara jam saku (memakai rantai dibaju), dan jam tangan yang memakai ikat kulit dipergelangan tangan. Trench watch mulai dipakai ketika dunia memasuki perang dunia 1, jam jenis ini dipakai khusus petugas militer karena alasan fungsional bahwa jam saku ternyata tidak praktis dipakai dilapangan tempur. Banyak yang mengatakan bahwa jam trench adalah sebetulnya jenis jam saku ladies ukuran lebih mungil yang dikasih cantolan buat dipakai dengan ikat kulit.
Tidak ada catatan jelas siapakah yang memulai jenis Trench watch ini, ada yang bilang bahwa jenis ini mulai populer setelah dibuat oleh Girard-Perregaux tahun 1880 atas pesanan AL Jerman. Dimasa perang dunia 1, muncul merk lainnya spt Omega, Longines, yang semuanya dijual untuk keperluan militer. Ciri jam yang dipakai militer ini nyaris serupa semua, memakai dial enamel, angka putih yang lebih besar mudah dibaca, dan hands untuk hour minutes memakai lapisan fosfor. Jam trench ini  dimasa itu bahkan banyak tanpa brand sama sekali, polosan simple. Lambat laun jam militer ini meninggalkan ciri kakeknya si-jam saku, dia hanya bisa dibuka dibagian depan dialnya, dan bagian butt nya tidak bisa dibuka kecuali dengan alat. Tahun 1930 an, nama "wrestiest" mulai dipakai untuk jam yang dipakai dipergelangan tangan ini, lalu kemudian menjadi "wrist watch"

Dimasa kini jam saku kelas vintage nyaris sudah punah. Jikapun ada itu hanya ditangan kolektor atau hobiis horology saja. Beberapa jam saku antik dari masa antara 1700 ke 1950 bahkan masih ada yang sehat, dan sebetulnya bisa dipakai untuk jam secara fungsi dengan akurat. Beberapa brand ditemukan di Indonesia ketika jaman penjajahan dibawa orang Eropa, bahkan ada yg diberi nama "Batavia Soerabaja" di dial depannya.  Jam jenis ini juga bisa dipakai sebagai pelengkap busana saat memakai jas, atau memakai pakaian adat misal saat hari raya. Sampai saat ini, banyak user masih suka pakai tshirt dan jeans keluar rumah memakai jam saku, sebuah bentuk kontras yang menarik perhatian banyak orang ketika memakai jam saku dari era sekitar 1920 an.

Sale pocket watch:
http://kongsi8.blogspot.com/2012/12/hold-pocket-watch-vintage-chronometre-d.html

Referensi:
Van Arcken Batavia Soerabaja
https://en.wikipedia.org/wiki/Trench_watch
https://en.wikipedia.org/wiki/Pocket_watch
https://en.wikipedia.org/wiki/Nuremberg_eggs



Pedagang Antik dan Barang Jadoel

10 Tahun Dagang Online

10 Tahun Dagang Online

Join Grup Pemancing Fesbuk "Pasarikan", klik foto banner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...