Baca Rules Sisi Kiri Dengan Cermat

Baca Rules Sisi Kiri Dengan Cermat

KHS Fullsus SALE!!

Saturday, August 11, 2012

Short Visit > Menjumpai "Ruh Tua" di Plaosan Lor


Kawasan desa Klurak Baru tempat kami menginap punya nama populer. Sebut saja dengan sebutan “candi Prambanan” maka tidak ada yg tidak tau dimana lokasinya. Dari Jogja arahkan mobil menuju Solo, maka candi Prambanan akan terlihat dari pinggir jalan. Ruas jalan itu menuju ke Solo dan Wonosari.

Nama “klurak” sendiri mengingatkan akan nama buah kecil dengan tampang jelek yang dipakai untuk mebersihkan kerajinan perak bakar. Buah Klurak dipotong sedikit ujungnya lalu ambil sikat gigi dan gosokan dibuah itu hingga timbul buih busa, lalu gosokan sikat berbuih itu ke perak. Buih busa ini mirip sabun pembersih yang bisa membuat perak kusam menjadi kinlclong putih bersinar. Di Kota Gede sentra industri perak bakar terbesar dinegeri ini, buah Klurak banyak dijual toko artshop perak.

Berhimpitan dengan desa Klurak terdapat dukuh dan desa luas penuh dengan persawahan dan ladang. Sebut saja nama desa Bugisan, Plaosan Lor, Plaosan Wetan, Cepoko, atau desa Mbener, Disini gudang beras, sebagian lagi diisi oleh jagung dan tebu. Produksi tebu nasional salah satunya dihasilkan dikantong wilayah ini. Perkampungan disini salah satu jantung dari “kampung jawa sebenarnya”. Cikal bakal perkampungan jawa sudah tumbuh sejak puluhan abad silam. Kampung ini tidak muncul diawal abad 20 akibat modernisasi dan populasi yang meledak dikota terdekatnya yakni Jogja, Sungguh, bukan “kampung dadakan”. Mereka sudah ada sebelum era Mataram kuno. Tidak heran, masih ada rumah kampung yg diklaim masih berdiri tegak sejak abad ke 7 M.

Ketika memilih lokasi ini untuk menginap dan menjajal trek dikampung untuk bersepeda, tentu saja karena terpengaruh dorongan ingin merasakan aroma sejarah tua yang sudah ada sejak belasan abad silam. Diwilayah ini, disela sela hamparan luas persawahan, banyak terdapat candi candi tua. Berdiri kokoh dari padas hitam, sebaran kompleks candi dibeberapa dukuh dan desa bisa didatangi khalayak sebagai obyek wisata terkenal Jogja. Dalam konsep mistik Jawa, wilayah ini dianggap mempunyai “condro” atau ruh tua yang tetap hidup dan berdenyut dalam pelukan kabut dilangit dan bumi pertiwi. Kampung disekitarnya ikut tumbuh sejak era candi candi ini dibangun puluhan abad silam, berpindah dari beberapa “wangsa” dan “ratu” penguasa yang berbeda beda. Godaan inilah yg membuat trip diputuskan kemari. Alam yg bagus, bersih, asri dan beraroma tua pasti membuat trek bersepeda ini akan lebih berwarna.

Kemarin 13 Mei, setelah makan pagi, kami keluar hotel langsung lepas dari jalan aspal masuk kekampung dibelakang, menuju  desa Bugisan di dukuh Plaosan. Sepeda dikayuh pelan membelah sawah hijau kuning dan kebun jagung.
Apa yg dilihat mata terasa nyaman. Hati terasa riang dan hidung menghirup udara asri desa. Bau tanah basah dan daun hijau menyegarkan isi hati. Jalan disini nyaris rata semua, tidak ada tanjakan berarti. Tantangan terberat bersepeda menyusuri area ini adalah diudara panas menyengat. Lelah akibat dehidrasi berat terasa lebih menyakitkan dibanding main diarea pegunungan yg sejuk. Walaupun baju sudah dipilih dari bahan coolmax, toh tidak mampu juga mengusir lelah ekstra karena heat stroke. Sambil becanda saya bilang: “Onta aja neduh kepanasan, ngapain kita malahan jalan keluar?”

Putaran kayuhan sepeda kami menjumpai beberapa candi diwilayah ini antara lain candi Plaosan Lor, candi Sewu, candi Asu, candi Bubrah, dan ditutup kebelakang area candi Prambanan. Sayang, beberapa candi itu hampir 60% nya hancur lebur akibat hentakan gempa dahsyat tahun silam diwilayah ini. Reruntukan batu raksasa bertebaran disana sini. Beberapa sudah dikumpulkan dan disiapkan untuk restorasi diakhir tahun ini. Diarea purbakala Plaosan Lor, sepeda diijinkan masuk kedalam area candi. Biasanya sih gak boleh, entah kenapa kami diijinkan masuk. Icus banyak motret candi yang masih utuh berdiri. Obyek bagus, sayang banyak yang sudah runtuh.

Dipenghujung sore, kami pulang dan bergegas mandi. Malam hari kami mencari ayam goreng kalasan. Disini adalah kantong ayam goreng Kalasan asli, dijamin gak ada tiruannya ngaku ngaku “ayam kalasan”. Kami menemukan resto lesehan kecil yg bersih dijalan raya besar Jogja-Solo, sekitar 1 km an dari hotel. Ayamnya renyah dan gurih ampun ampunan. Dua porsi ayam dan nasi langsung saya sikat masuk kedalam perut. Gua gak ngerti kenapa cuti ini selera makan jadi kayak kuli. Hahaha.

Bersepeda disekitar Jogja memang ueenak.

http://hsgautama.blogspot.com/search/label/A-SALE


(berlanjut besok ke candi ratu Boko…)


No comments:

Post a Comment

PERHATIAN :::::::::::
* Komentar soal isi blog ini saja. Promo dilarang disini, maaf.
* Jika kalian penipu online, fake onlineshop jangan harap bisa posting disini. Blog ini tidak dipakai buat numpang aksi penipuan oleh pihak lain. Cari makan halal sana dan jangan menipu.
* NO offensive item, NO haters gak jelas, NO Violence, NO SARA, NO Seks item whatsoeva, NO Judi online, NO drugs, NO Alcohol.

Pedagang Antik dan Barang Jadoel

10 Tahun Dagang Online

10 Tahun Dagang Online

Join Grup Pemancing Fesbuk "Pasarikan", klik foto banner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...