Baca Rules Sisi Kiri Dengan Cermat

Baca Rules Sisi Kiri Dengan Cermat

Saturday, August 11, 2012

Buat Sendiri Indikator gempa "murah meriah "didalam rumah


Hantaman gempa dalam seminggu ini diwilayah Jakarta, Jabar, hingga ke Jateng membuat tingkat kewaspadaan masyarakat seperti meningkat tajam. Mendadak, muncul pelatihan penanganan gempa disana sini dan masyarakat diminta belajar mengatasi masalah ini. Gempa terakhir kemarin lumayan besar, dengan hentakan sebesar 7,0 SR yg bisa membuat gedung roboh.  Untung saja, gempa kemarin yg ada diwilayah Indramayu berada dikedalaman 250km lebih, jika tidak, waduh bisa habis rata wilayah Jabar termasuk Jakarta. Mengerikan.

Selama 14 tahun  jadi wartawan, saya banyak ditugaskan meliput kedaerah bencana alam. Saking seringnya, saya dulunya sering diledekin sebagai “wartawan resmi bencana alam”. Bukan saya sendiri sih, tapi memang ada sekelompok wartawan disini yg memang lebih suka dikirim kearea berbahaya spt bencana alam dan kami diberi “gelar” seperti itu, membernya adl orang yg sama.
Tiap media memang punya org spesialis yg sukanya dengan tipe liputan semacam ini, yakni kondisi ekstrem serba kekurangan akibat bencana dahsyat, sanitasi lingkungan yg mendadak memburuk, dan serakan ratusan mayat  dalam skala besar disatu lokasi bencana hebat.

Selama melihat kelokasi bencana gempa, saya menemukan satu pelajaran berharga.
Dari sekian banyak bencana gempa bumi (tektonik biasanya), jatuhnya korban terbesar akibat gempa justru terjadinya dimalam hari, atau dini hari. Saat penduduk terlelap dirumah masing masing, mendadak gempa hebat menyerang, saat itulah rumah mereka rubuh. Sudah dipastikan esok paginya akan banyak mayat berjatuhan disana sini.
Data jumlah korban, berkaitan erat dengan waktu kejadian. Ini tidak terbantahkan.

Melihat kenyataan itu, ada satu pikiran menggelitik, yakni bagaimana caranya kita tau saat bumi ini bergetar hebat lantas kita terbangun, atau paling tidak segera sadar 10 detik pertama setelah terjadi gempa?

Sadar bahwa terjadi gempa itu termasuk sulit lho, misal kita duduk bengong nonton TV saja seringkali tidak ngeh bahwa ada gempa. Atau kita rebahan dikasur, kita sering salah menyangka bahwa tempat tidur yg bergetar krn gempa hebat. Secara logis, harusnya kita punya alarm sederhana atau indikator spesifik untuk bisa membedakan getaran gempa, dan gerakan bukan gempa. Ketika kita berjalanpun sering tidak sadar bahwa bumi bergetar keras.

Untuk membuat indikator sederhana ini, didalam lingkungan rumah saya sendiri digantung beberapa hiasan dari kayu dan lonceng (genta) dari kuningan. Hiasan gantung bergaya etnik itu lantas digantung didepan pintu kamar, dipinggiran tempat tidur, eternit, atau dekat lemari pakaian. Hiasan  genta-angin gantung (berbunyi jika ada angin bertiup) yg banyak dijual di Bali juga cocok digunakan disini, bahannya dari potongan alumunium bulat atau bambu.

Ada cara lain yakni dengan bola-lonceng dari kuningan yg banyak dijual untuk aksesoris dikaki penari shg bisa menimbul bunyi  “kincring-kincring”, atau bisa juga klontongan kalung sapi. Benda ini banyak dijual dikakilima Malioboro Jogja dengan harga tidak mahal amat. Rangkaikan bola-lonceng itu hingga beberapa buah, lalu gantungkan dengan posisi tidak menempel langsung kedinding (melayang, ada jarak antara bola lonceng dan dinding). Pastikan, saat ada getaran dia akan bebas berbunyi nyaring.

Jika tidak ada bola-lonceng, bisa pakai kaleng bekas susu, atau material kaleng tipis lainnya. Hiasan bergaya etnik dari bahan kayu juga bisa dipakai, seperti halnya yg saya pakai dirumah. Ketika terjadi gempa, bunyi kemerincing bola itu dan hiasan etnik akan terayun hebat kesana sini membentur berkali kali dipintu kamar. Suaranya lumayan keras ditelinga.

Alternatif lainnya adalah dengan menyediakan akuarium kecil terisi air penuh. Saat gempa melanda, air didalam akuarium akan terkocak dengan hebat sehingga siapapun yg melihat itu akan tau jika terjadi gempa. Kelemahan indicator akuarium adalah cara ini tidak menimbulkan bunyi nyaring spt cara diatas.

Kenapa sih kita perlu “indikator atau alarm” didalam rumah seperti ini?

Percaya gak, menurut pengalaman saat wawancara dengan korban gempa, korban mengatakan bahwa mayoritas dari mereka tidak sadar ada gempa hingga 60 detik pertama sejak serangan, setelah tersadar baru mereka melompat keluar rumah. Korban yg tidak sadar terjadi gempa tsb adalah mereka yg tidak dalam kondisi tidur alias melek segar bugar. Bisa dibayangkan jika mereka sedang tidur kan.  Itu artinya, lewat dari semenit pertama jika dihantam gempa diatas 7.0 SR hingga 9.0 SR, rumah itu sudah terlanjur roboh.

Mungkin, sudah saatnya didepan pintu kamar kalian atau diatas eternit kamar tidur digantungkan hiasan tertentu yg bisa berbunyi dan terayun karena gempa. Tidak ada salahnya kan, toh dirumah saya terbukti efektif  *** hsgautama.blogspot.com

http://hsgautama.blogspot.com/search/label/A-SALE



No comments:

Post a Comment

PERHATIAN :::::::::::
* Komentar soal isi blog ini saja. Promo dilarang disini, maaf.
* Jika kalian penipu online, fake onlineshop jangan harap bisa posting disini. Blog ini tidak dipakai buat numpang aksi penipuan oleh pihak lain. Cari makan halal sana dan jangan menipu.
* NO offensive item, NO haters gak jelas, NO Violence, NO SARA, NO Seks item whatsoeva, NO Judi online, NO drugs, NO Alcohol.

Pedagang Antik dan Barang Jadoel

10 Tahun Dagang Online

10 Tahun Dagang Online

Join Grup Pemancing Fesbuk "Pasarikan", klik foto banner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...