Baca Rules Sisi Kiri Dengan Cermat

Baca Rules Sisi Kiri Dengan Cermat

Saturday, April 27, 2013

Ada Cap Pekerja Pro TV Disini Dianggap Seperti Kelompok Kutu Loncat

Dua minggu lalu ketika ada diskusi di Galeri Antara pasar Baru, disela sela rehat belasan rekan wartawan sepuh dan bbrp budayawan senior yang ada disana terlibat pembicaraan sporadis dengan saya, salah satu pertanyaan mereka menanyakan kenapa pekerja profesional di TV jarang ada yang loyal dengan lembaganya dan cenderung menjadi sekelompok pekerja yang mirip kutu loncat?  Mereka memberi contoh kejadian terbaru salah satu TV disudut Jakarta (nama gak usah disebut) yang kehilangan karyawannya gede gedean konon gosipnya sampai diatas 2000 orang, ratusan karyawan kompak cabut dari sana dan pindah ketempat lain. Eksodus atau bedol desa sebanyak itu jelas menjadi pertanyaan buat banyak orang. Mereka  "bukan anak kemarin sore" jadi tahu juga beberapa isu yang berputar dikalangan anak TV nasional misalkan apa yg menjadi fenomena dalam 15 tahun terakhir.
Pertanyaan sederhana itu susah dijawabnya karena punya jawaban banyak. Jika memahami separuh separuh bisa menjadi mis-interpretasi dan masuk dalam pemahaman yg tidak tepat. Saya sih bicara apa adanya, sebagai insan televisi dulunya, lumayan lama saya bermain diranah ini. Jadi hitam putih dan gosipnya dikalangan anak TV tentu saya paham.
Penyebutan "tidak loyal" dan "kutu loncat" memang cibiran yang tajam, itu menyakitkan hati. Itu bisa diartikan pekerja pro TV memang oportunis sejati, hanya cari untung sendiri jadi yang disalahkan indvidunya, bukan hal lain diluar ybs misalkan saja perusahaan itu yang buruk. Disisi saya sih gak tertarik untuk melancarkan sikap defensif dan memakai bahasa bersayap penuh eufemisme, saya ringan saja menyebutkan analisa pendek kenapa hal itu terjadi. Gak ada yang ditutupi karena memang secara moral saya gak punya ikatan apapun untuk menutupi hal ini.

Jawaban pertama yang paling mudah adalah pekerja TV tidak mau menerima gaji dan tunjangan jabatan yg rendah karena kami pekerja high qualified. Mereka minta dibayar memadai sesuai skill nya.
Pekerja TV tahu dirinya adalah kelompok pekerja yang high qualified karena mereka bukan cuma disebut pintar otaknya, tapi juga terampil menguasai peralatan yang super kompleks dan super mahal (alat broadcast gak ada yang murah, tidak men-toleransi kesalahan, dan semuanya ribet rumit). Sebagai kelompok pekerja pro yang terampil dipekerjaannya, jelas mereka tidak mau dibayar rendah. Bahasa mudahnya begini deh : kalo elu mau bayar rendah cari aja tukang ketik doang  tinggal pencet2 keyboard selesai deh, jangan cari karyawan yang menguasai alat padat teknologi dan super mahal seperti itu. Pada akhirnya mereka melirik kepada perusahaan TV lainnya yang mau membayar mereka dengan gaji tinggi. Dikalangan insan Human Resources TV lain juga sudah ada penggolongan bahwa: oh TV anu dibayarnya sangat rendah kok, jadi kalo masuk kemari kita kasih segini aja sudah bisa kok, faktanya mmg ada list stasiun TV berdasarkan cara penggajiannya disesama kompetitornya, mereka saling intip dan sudah tahu deh isi jeroan lawan apa saja. Berapapun yang dibayar asal lebih tinggi maka pekerja TV akan pindah. Merasa  dirinya high qualified, work load like hell and must be zero mistake, kerja kayak kuli (kerja di TV sangat berat), alatnya susah dipelajari, maka wajar mereka minta lebih. Jika semua ini dipahami seperti "sekelompok oportunis" maka itu tidak tepat, cobalah tengok teliti seperti apa salary didalam perusahaan tsb karena mmg faktanya ada kok perusahaan TV yang masih cara mikirnya primitif menyamakan pekerja TV pro dengan tukang sapu biasa yang bisa dibayar murah meriah.

Jawaban kedua adalah dikalangan industri  kreatif ada kebiasaan pindah sana sini. Industri TV sebagian adalah masalah kreatifitas, hampir sama dengan insan iklan, beda saja dikit kok. Dikalangan anak iklan misal namanya Copywriter itu bisa pindah menclak menclok kesana sini dalam 10 tahun kerja. Dan lucunya, anak iklan bisa menerima ex karyawannya kembali yang pernah kerja dengan mereka sekitar 7 tahun silam. Perubahan orang dan perubahan komposisi tim kreatif akan membuat ide segar akan masuk. Dikalangan anak TV sedikit beda, bahkan bisa dibilang susah masuk kembali kebekas kantor lamanya. Ada gengsi disana, atau boss nya dengan sombong mengatakan "sekali sudah melangkah keluar maka maka pintu akan ditutup alias gak bisa kembali". Masih ada sekelompok boss yang cara berpikirnya "ndeso" menyangka bahwa jika mau resign tunjukan saja pintu keluar yang mana sambil bilang kepada karyawan resign itu sbb: "you resign saja sanah, we dont care, yang antri pengen masuk ke TV kami ini akan berjejer panjangnya sampai ke Terminal Cililitan kok".  Jadi intinya mmg ada kesombongan yang tinggi diawang awang, ada keyakinan kuat bahwa peminat kerja ke TV sangat buanyaaak, alias "masih siap ribuan korban lainnya" anak fresh graduated, "daging segar" yang bisa dikerjain soal gaji super rendah. Perubahan "nilai kesombongan" ini tentu saja bisa kok, menjilat ludah sendiri sah saja karena goal tiap stasiun TV tentu beda tiap tahun, arah kebijakan juga beda karena mmg kinerja perusahaan naik dan turun. Jadi perlakuan yang tidak nyaman dan menyakitkan bisa juga mendorong perpindahan karyawan ke TV lain yg semoga lebih enak suasananya, selain alasan utama spt rendahnya gaji, tunjangan, dan mencari ide kreatif yg lebih seru,  gak itu-itu doang. Berkembang secara kreatifitas adl tuntutan bhatin, jika dimampetkan karena "dijegal terus" atau gak tersalurkan maka isi kepala pusing 7 keliling kok. Anak kreatif bahagia jika ide dikepalanya jadi real nyata.

Ada ungkapan cerdas berbunyi begini: jangan pernah setia dengan perusahaan kamu, jangan setia sama owner nya, karena biasanya mereka tidak fair, maka setialah dengan profesi kalian saja. Profesi akan melekat sampai mati, sedangkan perusahaan tsb satu saat bangkrut dan dijual karena tidak menguntungkan malah membebani cost.  *** hsgautama.blogspot.com


** Tag tulisan "kantor_bahlul" adalah kumpulan dari cerita tentang printilan managerial yang sudah ancur ancuran disekitar kita, atau suasana kerja yang amburadul, mirip seperti kacaunya menghadapi orang mabok (=bahlul). Management kantor kan tidak selalu bagus hasilnya, banyak kok teman teman kerja disituasi kantor yang amburadul. Cerita disini untuk mengimbangi banyaknya tulisan lain ttg tips menjadi manager hebat, dan sebaliknya "kantor bahlul" malahan menceritakan bagaimana membuat kacau seluruh isi kantor dan anak buah kita, hehe.

** Foto hanya ilustrasi belaka.



No comments:

Post a Comment

PERHATIAN :::::::::::
* Komentar soal isi blog ini saja. Promo dilarang disini, maaf.
* Jika kalian penipu online, fake onlineshop jangan harap bisa posting disini. Blog ini tidak dipakai buat numpang aksi penipuan oleh pihak lain. Cari makan halal sana dan jangan menipu.
* NO offensive item, NO haters gak jelas, NO Violence, NO SARA, NO Seks item whatsoeva, NO Judi online, NO drugs, NO Alcohol.

Pedagang Antik dan Barang Jadoel

10 Tahun Dagang Online

10 Tahun Dagang Online

Join Grup Pemancing Fesbuk "Pasarikan", klik foto banner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...