Baca Rules Sisi Kiri Dengan Cermat

Baca Rules Sisi Kiri Dengan Cermat

KHS Fullsus SALE!!

Saturday, August 11, 2012

Short Visit > Genjot Maning bapake!


Menuju ke Barat kembali, begitulah arah Combi ini bergerak.
Bukannya pengen menyamakan dengan cerita pendeta suci ditemani oleh dewa kera Sun Go Kong, dan kedua kawannya menuju ke Barat untuk mencari pencerahan dalam hidup. Yang jelas, kembalinya kami mengarah ke Barat sama saja dengan cuti kami hampir habis alias masuk kerja lagi.

Rasanya engga rela cuti ini habis (sambil geleng kepala keheranan: kok cepet banget sih cuti habis?). Gua yakin sapapun yg membaca line diatas (apalagi teman kantor) pasti akan marah marah, hahaha. Jujur aja, liburan berikutnya sudah dirancang dikepala ini kok. Esa hilang, dua terbilang, … cuti abis, yaaa cepetan cari liburan lagi.

Kemarin lusa, dari Jogja dengan santai kita masuk ke Purwokerto. Kota ini berkembang luarbiasa pesat. Kaget juga liat isi kotanya begitu besar.

Apa yg terbayang mengenai kota ini adalah lawakan lucu. Iya betul. Lha  orang sini kalo ngomong “jawa ngapak-ngapak”. Pencitraan orang Banyumas dalam kacamata nasional adalah logat dan dialek mereka biasanya digunakan untuk artis lawak. Logat “ngapak-ngapak” dikenal luas di panggung srimulat atau melalui personifikasi mbak Cici  (dikenal dengan nama Cici Tegal ) salah satu artis lawak beken. Mau gak mau kita juga terpengaruh dengan cap begitu ketika jalan jalan dikota ini. Setiap orang yg ditemui disini ngomongnya yaaa begitu. Tawar menawar dengan tukang becak juga diselengi dengan senyum tertahan kami.

Kita: “Bapake, nyong arepe ke mall pira” (hey Pak, kalo aku ke mall berapa duit?”)
Becak: “Biasa bae laaah, patang ewuuu” (bisalah, empat rebu aja)
Kita: “Halah, parek kiye bapake, telung ewu bae laaah” (deket gitu kok, pak, tiga rebu aja).

It has no manner if we make a laugh, really. Hehehe.

Di Purwokerto, kami menyempatkan mampir di “Bendung Gerak Serayu” yang letaknya hanya 30 menit dari pusat kota. Bendungan ini menahan arus laju air dari Sungai Serayu.

Pemandangan disini lumayan apik. Lekukan lereng gunung dan hutan yg melingkupi area ini cantik. Gak kalah dengan pinggul perempuan yg kegenitan melenggok gak ada capeknya. Barisan hutan mempunyai gradasi berlapis. Menggambarkan area ini persis dilukisan cina yg dipenuhi gradasi berlapis dari kumpulan kabut. Sayang area disini termasuk panas menyengat, bukan pegunungan sejuk.

Keasikan main ditepian S.Serayu kami akhirnya kesorean. Sepeda dilipat cepat dan segera menuju kota kecamatan terdekat yg hanya berjarak 15 menit untuk mencari hotel. Kota kecil ini bernama Wangon. Kota ini merupakan pertigaan vital yg menghubungkan Purwokerto – Cilacap – Tasikmalaya (ke Bandung). Karena merupakan pertigaan, gak heran kota kecil ini hidup dari jalur lintas utama. Hotel disini dipakai sebagai penginapan transit.
Nama Wangon mempunyai penafsiran berdasarkan legenda yg tumbuh diorang  setempat. Wangon diduga berasal dari kata “Wangun”. Artinya “pantas”. Arti lainnya, berarti aliran sungai irigasi. Mana yang benar gak tau. Kira kira begitulah maksudnya.

Lepas dari Wangon kami meluncur menuju Garut.
Tepat di kilometer 100 dari Purwokerto yakni perbatasan Mejenang, kami makan siang di resto Pringsewu. Ketika menjejakan kaki masuk kedalam, mendadak saya ditegur ramah bersahabat dari sesorg: “Mas Gautama ya, apa kabar?”. Bengong sesaat, kaget juga ada yg menyapa disini. Ehh taunya kita kenal lama di milis sabtuminggu. Namanya mas Wicak. Email dan tulisan dia kerap terbaca didalam mailbox saya. Gak nyangka kita tatap muka disini, hampir 300 km dari Jakarta, hahaha. Mas Wicak adalah orang yg ramah dan menyenangkan. Chit chat pendek dipintu masuk resto biarpun singkat, toh terasa enak dan bersahabat, seperti teman lama yg hilang 5 tahun.

Malam kami menginap di Garut.
Disini, kami menginap dihotel mungil milik keluarga Meina. Perempuan cantik dan ramah ini adalah “kawan deket” dari koresponden kami diwilayah Tasik, Budi Pardiana. Yaa begitulah arti dari “kawan dekat” hehehehe.
Ketika masuk kekota Garut, dia Meina menjemput kami didepan jalan Ciledug. Dari situ dia membantu kami masuk kearah Wisma Rengganis milik keluarga dia. Sepanjang sore kami banyak ditemani dia ngobrol panjang. Kami harus banyak tanya ini itu buat menyusun perjalanan besok mengitari wilayah ini. Mumpung masih di Garut, apa aja akan kita cobain deh.

Selain ketemu Meina, kita berdua juga ditemani oleh mahluk kecil bernama Jeihan. Sumpe, ini anak lucuuuu abis. Kekeke. I recently fall in love with this kid, her warm smile are trully touch my heart. Jeihan menemani gua mengetik naskah ini sambil tertawa tawa melihat fotonya didalam laptop. Hehehe.

Hsgautama.

http://hsgautama.blogspot.com/search/label/A-SALE



No comments:

Post a Comment

PERHATIAN :::::::::::
* Komentar soal isi blog ini saja. Promo dilarang disini, maaf.
* Jika kalian penipu online, fake onlineshop jangan harap bisa posting disini. Blog ini tidak dipakai buat numpang aksi penipuan oleh pihak lain. Cari makan halal sana dan jangan menipu.
* NO offensive item, NO haters gak jelas, NO Violence, NO SARA, NO Seks item whatsoeva, NO Judi online, NO drugs, NO Alcohol.

Pedagang Antik dan Barang Jadoel

10 Tahun Dagang Online

10 Tahun Dagang Online

Join Grup Pemancing Fesbuk "Pasarikan", klik foto banner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...