Baca Rules Sisi Kiri Dengan Cermat

Baca Rules Sisi Kiri Dengan Cermat

Monday, October 8, 2012

Mau kerja di media massa? Baca dulu review ini apa yang harus dipikirkan menilai perusahaan media tersebut

Lulus kuliah kalian ingin kerja di media massa yg kelihatan kinclong dan mencorong?
Bagaimana sih membuat review atau menilai media massa itu bonafid dan bagus atau tidak?
Boleh saja kok menimbang dulu, media massa banyak yg tampak kinclong dan megah imej nya diluaran sana. Begitu kinclongnya sampai terlihat sangat gagah dan ini justru menutup beberapa borok didalamnya. 
Sebagai orang yg sudah bekerja dibinis media selama 20 tahun dan saya sudah bekerja disana sini (perusahaan lokal dan asing, cetak dan elektronik) dan saya menyimak banyak cerita kawan kawan lain dilapangan, maka rasanya saya bisa menjabarkan gamblang apa sih yang harus kalian pikirkan sebagai "calon karyawan media" untuk menimbang "seperti apakah jeroan dalam perusahaan itu"? Apakah bagus untuk kalian? Atau malahan bikin kalian sengsara dikemudian hari?


* Amati HRD nya
HRD ibarat etalase pertama antara pelamar dan institusi tsb, jadi perhatikan bagaimana HRD itu menyikapi kalian.Perusahaan media yg baik : Begitu masuk maka semua item esensial langsung siap: Surat2 penting semua siap spt ID-Card, seragam disediakan utuh oleh perusahaan bukan dari kantong pribadi (jika ada pakai seragam), pengenalan lingkungan kantor baru, trainning siap berikut materinya. Perusahaan media yg jelek: tentu saja kebalikan dari diatas itu semua, yakni begitu karyawan baru masuk maka belum dapat ID card, seragam dari bekas baju karyawan lama (krn harus dikembalikan ke kantor tsb sblm resign dstnya). Berantakan soal persiapannya deh. Jika ini saja berantakan, maka dijamin sisa lainnya pasti juga seenaknya saja. Maksudnya, semua aturan diterjemahkan sesuka perusahaan demi kepentingan perusahaan, bukan karena pemahaman yg tepat benar.


* Single sallaries tapi triple job. Sebetulnya secara fakta bukan hal tabu triple job dikerjakan satu orang karena hal ini memang ada, dan kenyataannya mmg banyak perusahaan media asing juga menjalankan prinsip ini. Tapi perbedaan mencolok terlihat ketika bicara soal gaji sikaryawan tsb. Diperusahaan yg serba irit medit, karyawan dipaksa bisa mengerjakan jobdesk sampai lebih dari satu, dua, tiga, atau bahkan empat, dan celakanya gaji yang dia terima gaji  bukan "gaji multi skill". Mungkin saja sih di dua tahun awal karyawan itu dipaksa untuk multiskill, nah ditahun ketiga gajinya harus melonjak naik sesuai dengan skill dia tsb dan pengalaman kerjanya, tapi nyatanya sih banyak perusahaan pura pura bego krn mengeruk keringat lelah sikaryawan sebesar besarnya, dan "in return" tetap single sallaries. Tanda perusahaan spt ini gampang kok: jika kalian ketika bekerja selalu disindir senior dengan kalimat "ah sudaaaah ngapain sih kelewat rajin, ini saja sudah cukup kok", itu indikasi ada rasa muak hebat kepada perusahaan dan biasanya ini soal gaji yg tidak imbang dengan tuntutan jobdesk. Nasib karyawan disini sungguh celaka 12.

* Lihat intrik didalam sana dengan mengamati ada berapa kelompok pemain didalam keseharian bekerja.
Office politics are suck, tapi itu fakta dan ada dimana mana. Bahkan saking parahnya bisa saling menjegal. Keatas menjilat tuannya sampai kesol sepatunya, kebawah nginjek siapapun, kiri kanan nyikut. Perilakunya "sluman slumun slamet" (pokoknya menjilat terus tapi kalo ada masalah langsung melipir cari selamat dan menyalahkan orang lain, penakut yg gak berani pasang badan). Amati juga apakah kelompok itu berdasarkan atas hal apa? Ada kesukuan rasisme, ada agama, ada karena divisi, ada yg mupeng pengen jabatan tinggi, ada karena alumni dari media lama sebelumnya dll. Terjebak dilingkungan seperti ini tidak sehat, tapi apa boleh buat ada dimana mana dan sangat jarang bisa dihindari.


* Mengijinkan adanya ruang untuk melakukan pelanggaran tindak pidana/ perdata. Wah sudah, ini salah, titik. Tinggalkan perusahaan begini karena artinya mereka sudah benar benar parah. Gak usah dijelaskan panjang lebar ya... 

* Disana ada serikat pekerja. Serikat pekerja dijamin UU, dan perusahaan yg sehat pasti ada serikatnya. Perusahaan yg bermasalah dijeroannya dan membusuk penuh permainan pasti tidak akan mau ada serikat pekerja, dan akan mengancam siapapun karyawan yang berani membuat serikat pekerja disana. Sistem penggajian dan kesejahteraan yg jomplang biasanya juga ditakutin oleh perusahaan bermasalah untuk mengijinkan karyawan membuat serikat pekerja. Jadi waspadalah dengan perusahaan media tanpa serikat pekerja, Sekinclong apapun imej perusahaan itu pasti ada sesuatu yang tidak beres didalam sana. Simple saja: jika mmg semua beres dan memenuhi kelayakan maka tidak ada yg perlu ditakuti perusahaan memenuhi "panggilan UU" yg mengijinkan adanya Serikat Pekerja. 

* Amati karyawan yg resign sepanjang kurun waktu perusahaan itu berdiri. Hitung berapa persen yg resign dan tetap punya hubungan baik baik saja, dan hitung berapa persen yg mereka keluar dengan hubungan yang buruk atau marah marah, uring uringan. Jika ternyata katakan sampai 80% karyawan keluar membawa kemarahan dan hubungan dia berakhir buruk dg eks perusahaan itu, maka sudah gak usah ditanya perusahaan itu PASTI buruk. Tentu ada sebabnya kenapa kok malah didominasi eks karyawan yg malahan punya hubungan buruk dengan perusahaan itu. 

* Perhatikan awak perusahaan itu ketika bekerja, amati semua peralatan yg dia pakai bekerja. Jika peralatan yg dipakai oleh semua crew nya 100% milik perusahaan itu maka jelas itu perusahaan yang sehat. Jika malah sebaliknya: peralatan yang dipakai karyawan bekerja justru adalah peralatan yg dibeli oleh uang karyawan tsb, maka segara tinggalkan perusahaan tsb. Bayangkan gaji karyawan malahan dipakai untuk membeli alat yg dipakai dia bekerja untuk perusahaan itu. Apa tidak ganjil ini? Sudah sepantasnya perusahaan itu menyediakan semua peralatan bekerja tanpa terkecuali, kok ini malahan lucunya karyawan beli alat untuk perusahaan. Contoh kasus, lihatlah alat yg dipakai karyawan: laptop, modem (komunikasi kerja dilapangan), telp dia, kamera, dstnya, itu seharusnya mutlak disediakan perusahaan. 


* Ada perusahaan yg sengaja membuat karyawannya tidak sejahtera selamanya, dan ada perusahaan lain yg justru bertekad membuat karyawan makin lama makin sejahtera. Kompas koran adalah contoh ideal bagaimana membuat wartawan yg bekerja disana bisa punya rumah, mobil dll. Semakin lama bekerja disana maka semakin makmur dia. Ada lho perusahaan yg justru memang filosofi dasarnya tidak mau membuat karyawannya jadi kaya atau makmur, dan ini sengaja di setup begitu. Shg tidak aneh, ada karywan kerjanya sudah 8 tahun lebih tidak punya mobil, rumah atau apapun yg didapat dari kantornya blas. Ibarat jadi budak saja, diperas tenaganya habis habisan. Jika terlihat dia naik mobil maka dipastikan itu dari tabungannya yg sudah "berdarah darah disisihkan tiap rupiah bertahun tahun" dan kemakan untuk hutang bayar mobil cicilan dia yang dipakai ngantor. 

* Coba perhatikan karyawan paling senior disana, yg paling tua masa kerjanya. Tanya dia, selama bekerja disana dia mendapatkan penghargaan dalam bentuk apa? Jika tidak ada sama sekali, padahal dia tidak pernah satu kalipun kena peringatan lisan atau tertulis, maka dijamin itu perusahaan yg buruk, atau dengan kata lain "perusahaan ini contoh bagus" dimana mereka sama sekali tidak memanusiakan pekerjanya yg memberi ratusan juta rupiah ke holding. Coba lihat point single sallaries but triple job, artinya karyawan kerja mirip budak dan perusahaan tdk mau rugi bayar lebih sedikitpun. Gajinya saja rendah, boro boro mau ngasih penghargaan. Lihatlah ASTRA dia adalah perusahaan yg karyawannya betah disana, makin lama bekerja disana makin makmur dia, terjamin hidupnya, dan diberi penghargaan (ada teman cerita, yg bekerja terlama akan mendapat sebatang emas murni dari ASTRA, wow jika cerita ini benar maka tidak heran turn over pekerja disana terkenal sangat rendah, siapa sih yg mau resign dari sana?). 

* Simak dengan baik dua bagian penting: "peraturan yg melarang" dan "peraturan yg membebaskan" berbuat sesuatu. Jika aturan larangan ada sekitar 100 point, sedangkan aturan yg membebaskan hanya ada 8 item, maka sudahlah cepat tinggalkan perusahaan jelek ini. Artinya kultur disana sudah jelas hanya bisa menekan karyawan, melarang ini itu, tidak boleh ini itu, menghukum terus menerus, mengancam dengan hukuman melulu tapi sebaliknya tidak ada kelonggaran yg melegakan sebagai penyeimbang. Jika kulturnya saja sudah menekan dan mengancam terus, bisa dibilang simple saja: disana ada namanya "budaya preman"  dan kultur kayak begitu akan mencekik leher siapapun disana. Komunikasi 2 arah diperusahaan dengan kultur begini tidak penting, yg ada cuma perintah patuh dan penuh ancaman saja. Apa enaknya diancam melulu ketika bekerja? 

* Perusahaan yg menahan Ijasah atau surat surat penting kalian biasanya "ada sesuatu disana". Misal saja ada kemungkinan kuat perputaran orang keluar masuk diperusahaan itu sangat tinggi, melebihi tingginya langit. Karena tingginya orang keluar masuk disana, maka perusahaan itu sengaja melakukan tindakan "menahan ijazah asli karyawannya" dengan alasan klasik: kami harus menjamin biaya pendidikan kami tidak hangus, kami tidak mau rugi mendidik orang blablabla". 
Bukan itu soalnya kok. Tentu ada sebabnya kan kenapa karyawan masuk/resign disana terlalu cepat?   Dan jawaban yg mudah diduga adalah pasti ada ketidak beresan soal gaji atau kesejahteraan. Tidak becusnya urusan gaji yg jomplang, compang camping, maka akan membuat karyawan paling banter tahan 5 - 12 bulan lalu cabut.  Kenyataannya  ada kok perusahaan media yg kelihatannya megah masih memberi gaji "nasakom" (nasib gaji satu koma sekian, paling banter ya 2 jutaan saja). Bayangkan di era tahun begini masih saja ada perusahaan membayar seputaran "nasakom", gila kan. Sebagai pembanding, gaji start up saya dulu tahun 90 an dapatnya 2,0 juta sekian. Apa  iya ditahun 2012 ini masih ada gaji 2 koma sekian utk kelas pekerja media? 

* Struktur Organisasi Harus terisi semua secara utuh, dan setiap posisi diperusahaan itu harus orang yg berbeda. Perusahaan yg sangat buruk adalah posisi disana didobel dobel, maksudnya satu orang bisa memegang posisi/ jabatan sampai dua, tiga, bahkan sampai 6 jabatan. Penghematan keterlaluan, ini sesuai dengan poin sebelumnya yg membahas soal "triple job but single sallary". Selain itu jika jabatan dirangkap disatu orang maka peraturan akan lebih mudah dimainkan sesukanya oleh pihak managemen. Contoh kasus, perusahaan seharusnya kekurangan 100 komputer dimeja tiap lantai, ini mendesak karena karyawan bekerja pakai laptop pribadi mereka. Tapi karena kepala keuangan, kepala HRD,  dan kepala divisinya (misal saja lho) ditangan satu orang, maka usulan menambah komputer itu kandas melulu akibat tekanan big boss yg tidak mau mengeluarkan uang, dipikir pikir uang akan hemat jika memaksa karyawan pakai laptop pribadinya untuk bekerja keperusahaan (sikaryawan diancam dengan SP jika perkerjaannya tidak selesai segera sesuai dateline, ngenes kan).  


* Ada baiknya perusahaan itu sudah go publik atau sahamnya dimiliki oleh beberapa pihak, bukan absolut ditangan satu orang. Percaya deh, jika sahamnya dikuasai satu orang pemilik saja secara mutlak maka dijamin perusahaan itu akan dikelola sesukanya owner, terserah dia, kan dia one man show. Bukan berpihak pada peraturan atau menempatkan karyawan sebagai aset, tapi malahan owner dan kroninya bisa memperlakukan karyawan dengan "brutal", tidak fair, menginjak seenaknya. Perusahaan yg go publik maka akan transparan, dan masuknya dana milik khalayak banyak akan membuat sipemegang mayoritas saham gak bisa seenaknya karena bisa diserang oleh pemegang saham lainnya. Kekuasaan absolut ini akan mempengaruhi kelayakan gaji, menekan pembagian jatah rewards karyawan yg seharusnya diterima sebagai bagian apresiasi kerja selama 1 tahun pembukuan.

* Poin akhir adalah soal pembayaran uang (atau apapun hak karyawan soal uang/ gaji). Perusahaan yg baik akan mempercepat pembayaran uang bukan malahan membuat selambat lambatnya, tidak memakan hak karyawan atas uang yg de jure - de facto adalah hak karyawan. Misalkan saja kalian membuat reimburse naik taksi selama seminggu. Maka menurut aturan uang akan keluar dalam 7 hari, maka itu harus benar benar keluar dalam 7 hari. Jika perilaku perusahaan itu selalu telat dengan sejuta alasan, maka kultur didalam sana mmg tidak paham apa itu uang karyawan adalah hak karyawan ybs, atau dalam konsep agama islam: "bayarlah upah dia sebelum keringatnya kering".  


Jobdesk Bos Adalah Menipu Anak Buah Soal Kelayakan Gaji

Kesimpulannya:
Tiap pemimpin disebuah perusahaan memang menentukan banget gimana perusahaan itu maju atau tidak, bos bermutu maka anak buah bermutu. 
Namun tidak ada rumusan ideal mana yg terbaik, misal kalo isinya dipimpin oleh S1-S2 semua maka akan bagus. Pendidikan ternyata tidak membuat orang jadi baik, mematuhi UU, atau menjunjung fairness, rasis berat, bahkan bisa juga mempertahankan jabatan dengan main dukun dengan membakar kemenyan didepan meja kerjanya atau memasang jimat (sekalipun pendidikannya tinggi menyundul langit). Perusahaan yg dicintai karyawan selalu "balance" antara hak dan kewajiban, bukan cuma isinya gak enak semua sih. Dengan memahami poin poin apa saja yang harus kalian amati sebagai "new kid on the block", setidaknya kalian punya pegangan bagaimana menilai perusahaan kalian, dus artinya juga menjaga ketentraman keluarga kalian nanti jika menikah. Buat apa bekerja jika resah, buat apa bekerja jika isinya cuma ancaman, buat apa bekerja jika bertahun tahun tidak sejahtera? Begitu kan?    *** hsgautama.blogspot.com

Pics are linked here: 1    2    3   4    5  


** Tag tulisan "kantor_bahlul" adalah kumpulan dari cerita tentang printilan managerial yang sudah ancur ancuran disekitar kita, atau suasana kerja yang amburadul, mirip seperti kacaunya menghadapi orang mabok (=bahlul). Management kantor kan tidak selalu bagus hasilnya, banyak kok teman teman kerja disituasi kantor yang amburadul. Cerita disini untuk mengimbangi tulisan lain ttg tips menjadi manager hebat, "kantor bahlul" malahan menceritakan bagaimana membuat kacau seluruh isi kantor dan anak buah kita, hehe. 





No comments:

Post a Comment

PERHATIAN :::::::::::
* Komentar soal isi blog ini saja. Promo dilarang disini, maaf.
* Jika kalian penipu online, fake onlineshop jangan harap bisa posting disini. Blog ini tidak dipakai buat numpang aksi penipuan oleh pihak lain. Cari makan halal sana dan jangan menipu.
* NO offensive item, NO haters gak jelas, NO Violence, NO SARA, NO Seks item whatsoeva, NO Judi online, NO drugs, NO Alcohol.

Pedagang Antik dan Barang Jadoel

10 Tahun Dagang Online

10 Tahun Dagang Online

Join Grup Pemancing Fesbuk "Pasarikan", klik foto banner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...