Baca Rules Sisi Kiri Dengan Cermat

Baca Rules Sisi Kiri Dengan Cermat

Friday, August 17, 2012

REVIEW: iBasso T2 amplifier portable bukan sekedar bikin budek


Alat audio adalah salah satu peralatan yg akrab dengan pekerjaan saya sehari hari. Sebagai seorang camera person atau video-journalist, paham konteks todo pekerjaan  audio-engineer termasuk sebuah item dari sekian belas item yg harus dipahami dalam paket dasar menjadi seorang camera person yg kompetitif. Saya sih bukan audio engineer, dan setting audio untuk seorang jurnalis cameraman sebetulnya simple dan tidak sekompleks membuat setting audio untuk sebuah konser raksasa. Sesuai kebutuhan saja, kira kira begitu, pokoknya jangan terlalu bego amat.

Audio dalam industri TV adalah hal mutlak. Mana ada TV tanpa suara?

Dus, artinya suara yg baik itu sebuah keharusan. Masalahnya, merekam sebuah audio berkualitas yg audible (didengar enak-pas, maksudnya) itu bukan hal gampang. Faktornya terlalu banyak yg ikut berpengaruh. Katakan saja, misal station TV itu harus punya ciri khas dalam penataan audionya yg akan didengar pemirsanya, peralatan dengan speks khusus spy didapat hasil yg sama, lalu taste telinga yg konstan, sumber suara yg “sejenis”, dstnya. Terlalu banyak yg harus dilihat, jadi membuat dan menilai sebuah kualitas audio itu termasuk rumit, karena ada faktor teknis alat, dan ada faktor taste manusianya.

Ada cerita menarik. Dulu, salah satu presiden kita, ingin mobilnya dipasang audio system yg hebat. Hobinya adalah mendengarkan musik klasik, selain tentu saja musik tradisionil (sebagai bagian dari akar budayanya hehehe).

Untuk memuaskan telinganya akan nikmatnya mendengarkan lagu favoritnya, dia mengundang instalatur audio terbaik dan terlengkap dinegeri ini. Jangan tanya deh, peralatan apa aja bisa kok dipasang disana. Syaratnya, mobil presiden itu harus tampil estetik sesuai aslinya, tidak lantas berubah dipenuhi box raksasa peralatan audio untuk  membuat konser. Ya dong, gileee aja kalo mobil presiden Indonesia kayak mobil untuk nge rap dijalanan. Hehehe.

Semua urusan teknis dihitung dengan cermat, gak ada masalah deh soal alat. Naah, setelah terpasang, justru  inilah yg rumit karena ada taste telinga manusia yg menilai. Karena itu, sang presiden membayar khusus salah satu musisi klasik kelas dunia yg ada disini untuk menjajal seluruh output peralatan audio yg terpasang rapih dimobilnya. Sang musisi itu hanya bergantian duduk didepan dan dibelakang hanya untuk merasakan (taste and feel) suara alunan musik klasik yg melantun didalam kabin mobil. Komentar musisi ini atas semua kekurangan output suara itu lantas dilakukan oprekan disana sini sekian kali sampai didapat suara terbaik.

Cerita diatas sebetulnya menunjukan, bahwa jika kita bicara kepuasan audio yg mengusap telinga, itu artinya no limit, dan rumusannya bukan cuma bicara teknis alat, tapi juga ada taste telinga manusia yg mendengar. Tapi, satu yg dipastikan, bila alatnya memang bagus speks teknisnya, maka diharapkan bagus pula nyampe ditelinga. Harga gak bohong kan
Masalah ini sama saja ketika saya mencoba memakai salah satu alat keluaran iBasso T2. Nama lengkapnya: iBasso T2  Hi-Definition Portable Headphone Amplifier & Splitter. Menilainya belibet laa...

Secara gampang, alat ini adalah sebuah kotak amplifier untuk MP3, Walkman, atau Musik henpon. Atau, jika dikatakan dengan santai begini: “iBasso ini buat bikin suara lebih kenceng dan ngebas”. Kayaknya sih emang semudah itu, tapi nyatanya gak segampang ini. Alat ini bukan soal cuma bikin kenceng, tapi juga memperbaiki kualitas suara agar memberi output yg dinamis disemua lini suara.

Saya tahu brand ini dari teman online disini, yakni om Budissimo. Diblog dia, terlihat jelas rupanya om satu ini memang penikmat musik memakai earphone atau headphone, yg pakai pemutar portable jinjing spt MP3. Disitu ada satu folder tentang iBasso dan ketika melihat itu langsung ngiler. Harap tahu saja, mencari amplifier portable untuk walkman atau MP3 itu termasuk susah. Bukan cuma disini, tapi juga diluar negeri sana. Jika gak tau dijual dimana, yaa gak bakalan ketemu. Item ini termasuk susah dicari, bukan produk masal spt layaknya player MP3 itu sendiri atau earphones nya. Setelah “cakap cakap” bertanya dimana dapet itu, dia menunjukan alamat penjualnya yg kebetulan sedang pameran di Indocomtech 2007.

Kemasan produk ini modern dan shinny dari stainless steel. Cakep, dan keren. Ditenteng ditangan enak, dimensinya amat kecil dan tampilannya itu bagus, tersedia warna hitam dan putih mencolok. Sayang, material kayak begini akan mudah tergores, dan mudah meninggalkan finger print disana sini. Saya juga gak tau bagaimana kekuatan alat ini jika dijatuhkan dari tinggi sedada manusia dewasa. Rusak atau enga? Seharusnya di test juga kebanting dari ketinggian itu (tapi gak mungkin laaa).

Ketika bertemu penjual barang ini, mas Michael, www.dontblameyourears.com , saya malahan dilarang jangan membeli ini jika saya enga bawa player saya dan headphone/ earphones. Saya sempat tersenyum, begini inilah kalo berhadapan dengan penikmat musik juga, dan biasanya bawel juga hehehe. Bukan soal duit sih menjual itu. Dia juga berharap, pembelinya bisa mendapatkan nilai lebih dari barang ini, bukan maen asal tancepin ditelinga. Ya ya saya paham, tapi sayangnya memang lagi gak bawa. Saya hanya sebutin saya pakai Sennheiser, Sony, Philips begini dan begitu, lalu player MP nya begini dan begitu. Trus ujungnya saya bilang, saya mencari amply khusus untuk pop dan rock, dan saya pengen iBasso T2 plus dengan earphone dbE 02B noise isolating earphones. Cocok gak cocok, kita liat saja nanti karena saya bisa mencocok padukan dengan beberapa jenis alat untuk dikawinkan dengan amply ini.

Setelah barang ini sampai dirumah, saya mulai sibuk menjajal alat ini.
Benda ini simple dalam peletakan tombolnya. Satu nilai lebih, tombol disana semuanya pakai cara geser bukan tekan. Artinya meminimalkan kemungkinan kepencet tanpa sengaja ketika disimpan disaku celana. Hanya satu tombol yg beda, yakni tombol putar untuk volume masih memakai cara spt potensio meter. Walaupun suka dengan peletakan tombolnya, tapi ada juga gak sreg dengan kecilnya ukuran tombol geser, serta lumayan keras ketika digerakan. Menurut selera pribadi, harusnya lebih empuk dari itu. Ukuran yg mungil juga membuat kita harus “mencongkel” tombol dengan ujung kuku.

Instalasi alat ini ketika disambung dg unit MP3 tidak rumit dan sangat user friendly. Bahkan tanpa melihat buku petunjuk pun akan tahu mana input dan output dari player atau ke earphone. Dalam sekejap, kita bisa menikmati suara oke dari barang ini.

http://hsgautama.blogspot.com/search/label/A-SALE

iBasso T2 dijual dengan iming iming sebagai amplifiying unit. Fungsi bukan sekedar bikin kuping budek, dia memang meningkatkan bobot kualitas suara yg  diperbaki oleh dia sebelum audio masuk kedalam telinga. T2 diklaim juga mampu meningkatkan kualitas bass dan punya fasilitas tambahan yakni tombol WSS (Wide Sound Stage System). Sampe skr agak bingung dengan maksud WSS itu, buat apa ya ini? Perbedaannya antara pakai WSS on atau off kok terasa tipis. Tidak terlalu nonjok, ...  apakah mirip home theater yg surround atau apa gitu? Atau malah cakupan frekwensi responsenya yg dibuat melebar? Apa salah tipe earphones? Jika memang gak kerasa banget bedanya, lantas buat apa dipasang disini?


Fasilitas lain yg bagus, yakni unit T1 dan T2 adalah mempunyai fungsi splitter, alias jika pakai ini maka bisa dipakai untuk 1 player tapi bisa didengarkan dua orang sekaligus (pakai dua headphones atau earphones). Dan ketika memakai dua earphones, maka biasanya akan ada efek melemahnya kekuatan output dari audio yg diterima telinga. Karena itu secara built in disediakan tenaga pendorong agar kekuatan audio yg dikeluarkan dua earphones itu tetap optimal (3dB dan 10dB). Sepintas, ini mirip phantom power jika kita memakai terminologi microphones, dan memang sangat berguna kok.

Sayangnya earphones yg dibeli bersama paket T2 tidak cocok ditelinga saya ketika dikawinkan dengan Mp3 player merk Neon Zen 2GB. Hasilnya ditelinga terlalu dry atau kering. Tidak tajam, tapi kering dan kurang berdentum. Zen Neon dan T2 tampaknya cocok dimainkan dengan Audio Technika, atau Sennheiser dan Sony Mega Bass, untung gua punya kekekeke...
Saya pikir, earphones dbE itu lebih pas jika disandingkan dengan iPod karena memang karakter audio yg dikeluarkan iPod cocok diseimbangkan dengan earphones dbE.

Namanya juga selera, kan bisa aja gak cocok, boleh dong kelakukan gua kayak presiden yg bawel memilih suara yg dianggap renyah dan enak. Hehehe, emang dia aja yg boleh bawel .  *** hsgautama.blogspot.com

No comments:

Post a Comment

PERHATIAN :::::::::::
* Komentar soal isi blog ini saja. Promo dilarang disini, maaf.
* Jika kalian penipu online, fake onlineshop jangan harap bisa posting disini. Blog ini tidak dipakai buat numpang aksi penipuan oleh pihak lain. Cari makan halal sana dan jangan menipu.
* NO offensive item, NO haters gak jelas, NO Violence, NO SARA, NO Seks item whatsoeva, NO Judi online, NO drugs, NO Alcohol.

Pedagang Antik dan Barang Jadoel

10 Tahun Dagang Online

10 Tahun Dagang Online

Join Grup Pemancing Fesbuk "Pasarikan", klik foto banner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...