Baca Rules Sisi Kiri Dengan Cermat

Baca Rules Sisi Kiri Dengan Cermat
Showing posts with label volkswagen. Show all posts
Showing posts with label volkswagen. Show all posts

Monday, June 26, 2017

Salah Satu Varian VW Combi Langka: VW T2 Kemperink

Perusahaan keluarga "Kemperink" didirikan pada tahun 1890 di Harbrinkoek dekat Almelo di Belanda. Pada tahun 1931 itu menjadi perusahaan spesialis pelatih, yang juga mengubah dan membangun wagon untuk angkut barang berat.

Ide awal VW Transporter berasal dari pemain asal Belanda, Ben Pon dan sejak awal 1950-an kendaraan ini terbukti sangat populer di Belanda.

Volkswagen sudah memproduksi berbagai macam kendaraan utilitas berdasarkan transporter VW, termasuk van tertutup, pickup, ambulans, minibus dan mesin pemadam kebakaran. Tapi dinamisme perdagangan menuntut kendaraan yang menawarkan lebih banyak ruang untuk membawa barang.

Kemperink yang datang dengan memberikan solusi nyata pertama. Pada tahun 1954 mereka membangun transporter VW LWB yang pertama. Pada dasarnya chassis pickup VW normal dipanjangkan pada jarak 90cm dan sebuah kotak van type section yang kemudian dipasang.
Ini mengubah jarak sumbu roda dari 2400mm menjadi 3300mm dan menghasilkan van kotak ringan yang mampu membawa barang besar, yang bisa dimuat oleh palet dari samping atau belakang kendaraan.

Jenis ini menawarkan 10 meter kubik luas yang luar biasa diruang interior, bukan standar 5 meter kubik. Ini jauh lebih baik daripada hampir setiap produksi 1 ton van lainnya pada saat itu. Mobil van ini masih didukung oleh mesin 119 hp 40 hp dan memiliki berat 1200 - 1315kg.

Van pertama yang diproduksi dikirim ke produsen industri kasur di Rotterdam. Ini kemudian diikuti pesanan dari produsen biskuit bernama Bolletje yang memesan beberapa kendaraan. Hal ini pada gilirannya menyebabkan pesanan dari perusahaan pakaian C & A, dan pesanan yang sangat menguntungkan dari tentara Belanda.

Kemperink menghasilkan 2 model dasar; Panjang dan tinggi (Lang und hoch), Der Kastenwagen - Bestelwagen (high top LWB)

Die Pritsche - (pickup yang panjang)
Bestelwagen (kecuali pesanan khusus) biasanya disertakan tanpa jendela. Bagian atas kabin bagian atas terdiri dari rangka baja berbentuk persegi dengan sisi baja. Bagian atapnya terbuat dari fiberglass dan untuk mengimbangi kekurangan jendela biasanya ditinggalkan dengan bagian tengah yang jernih untuk memungkinkan penerangan alami interior. Versi van layar split awal memiliki profil atap datar dengan tepi yang membulat. Kemudian kendaraan Bay window dengan profil atap yang merendah, yang memberi ruang kepala ekstra di dalamnya. Karena berdasarkan pada jenis pickup, semua kendaraan memiliki cab  terpisah. Kendaraan awal memiliki pintu belakang kembar (atau tunggal) dan (biasanya) pintu belakang yang sangat besar yang dilengkapi dengan struts gas.

Mungkin (tapi belum dikonfirmasi) bahwa ada beberapa versi Crew Cab dari "Die Pritsche" diproduksi. Berikut adalah contoh EFX178T yang sebelumnya dimiliki oleh "Just Kampers"
crew cab yang sudah lama ini pernah dimiliki oleh Just Kampers.

Selama tahun 60an dan 70an Kemperink berevolusi dari layar terbelah ke Bay Window, namun sedikit yang lain berubah menjadi kendaraan dasar. Satu-satunya perubahan besar selama periode itu adalah pilihan pintu geser daripada membuka pintu samping atau penutup jendela. Kendaraan ini ditunjuk sebagai 'Bestelwagen Special'.

Dari spec dasar ini, ratusan kendaraan ini akan diubah menjadi berbagai jenis kendaraan utilitas lainnya mulai
dari van dasar sampai toko keliling. Tentara Belanda menggunakan mereka sebagai ruang radio, menyediakan kendaraan dan dapur bergerak. Banyak juga digunakan untuk konversi kemping.

Mereka mengambil sedikit ruang untuk digunakan saat mengemudi. Sebagian besar dilengkapi dengan mesin 1600cc (atau kurang). Visibilitas sangat buruk terutama jika tidak ada jendela yang dipasang. Manuver dan berhenti harus direncanakan. Namun mengendarai Kemp sangat asyik dimanapun Anda pergi, selalu menarik perhatian.

Pada akhir tahun 1970-an ada banyak persaingan dari VW sendiri - setelah 20 tahun VW akhirnya datang dengan kendaraan LWB mereka sendiri (LT) dan ini terbukti menjadi jatuhnya produksi Kemperink. Tak lama setelah Volkswagen memperkenalkan Transporter T3 pada tahun 1979, produksi Kemperinks berakhir. hsgautama.blogspot.co.id

Sumber foto1



Friday, October 2, 2015

SALE VW Combi German 1974 Classic

SALE VW Combi German 1974
STNK ada, BPKB ada
Harga : WA saja deh spik-spik biar akrab.

Kumpulan album:  http://bit.ly/1hf0VsE
http://hsgautama.blogspot.co.id/2015/08/combi-vw-1974.html



Tuesday, March 26, 2013

SOLD - HABIS clipon POLARIZING SPL25 untuk dikacamata




SALE Clipon POLARIZING SPL25 ./ harga Rp. 125 rb
Hanya ada warna hitam

SOLD HABIS 30 UNIT -- SOLD ALL!!

Kaca Polarizing adalah kaca terbaik memangkas cahaya terang dan bayangan hantu dikaca atau air.
Karena kehebatan polarizing pada akhirnya kaca jenis ini banyak dipakai oleh user misal: nyopir bawa mobil atau motor, wisata dijalan, ditepi pantai, pemancing dicahaya terik untuk melihat gerakan ikan dibawah permukaan air, wisata treking, hiking, sepeda commuter, para pekerja dikota yang lelah dengan pantulan sinar digedung beton, dll. Mata tidak mudah penat karena terik, penglihatan lebih tajam dan awareness dijalanan meningkat sekian x lipat kerana semua tampak jernih dan plong.

People on the move will going to love this

Kacamata Cengdem di Laut dan Untuk Memancing Butuh Syarat Khusus
http://hsgautama.blogspot.com/2012/11/kacamata-khusus-di-laut-dan-untuk.html



Thursday, November 29, 2012

SOLD Pita Safety Scotlite per meter

Dipakai untuk dijahitkan dibaju, jaket motor, rompi kerja, jaket hujan dll
Pita scotlite akan menyala terang jika terkena sinar lampu kendaraan.

SOLD HABIS jenis plastik

* Lebar 5cm, harga per meternya Rp 30.000
Bahan dari plastik tebal, anti rusak, cuci ratusan x aman

Minimal pembelian 3 meter

Aman terkena air, aman dicuci,
tidak mudah terkelupas karena dari bahan plastik


Pita scothlite bahan kain lainnya disini:
http://hsgautama.blogspot.com/2013/02/sale-pita-kain-scothlite-cina-tipis.html




Aplikasi real memakai ini:

- Baju safety atau rompi safety pekerja konstruksi
- Jaket motoris atau jas hujan motor
- Pemain Sepeda dijalan raya kota yang padat harus pakai scotlite ditas dan bajunya
- Pemancing dilaut yang semalaman memancing diatas sampan boat (bukan diam saja didermaga).
- Diver yang melakukan penyelaman malam hari agar mudah dicari sesama rekan serombongan
- Hiking kegunung satu rombongan, mudah dicari dalam gelap dengan lampu senter kecil


#  Ragu dengan reputasi kejujuran saya sbg seller? kok repot sih,
klik saja data record penjualan, ada 200 halaman lebih tuh, Klik tag: A-SOLD-001
http://hsgautama.blogspot.com/search/label/A-SOLD-001
#  Testimonial BUYER dan kolega yang mengenal saya langsung:
http://hsgautama.blogspot.com/2012/08/imigrasi-dari-hsgautama-multiply.html
# ATURAN PEMBELIAN disini, mohon dibaca teliti:
http://hsgautama.blogspot.com/2015/08/aturan-main-pembelian-diblog-hsgautama.html





















Aplikasi dilapangan (foto dari sini), asik juga dipakai buat baju dugem  :-D




Sunday, October 14, 2012

Piknik Dengan VW Combi 74

Kangen jalan jauh lagi pakai si Combi ini
Liburan benar benar berbeda jika jalan pakai ini, atmosfer liburan kerasa kental memakai micro bus.Mobil jepang manapun gak akan bisa menandingi "feel" yg diberikan microbus combi. Beda deh.
**** hsgautama.blogspot.com







Friday, September 7, 2012

Hasil tes helmet cam keren, Contour HD


Bisa dibilang action cam terbaik saat ini dipasaran salah satunya adalah Contour HD, dan barang ini sekarang sudah masuk dipasar lokal disini.
Alat ini keluaran dari VholdR dan merupakan helmet cam memakai format High Definition atau 1080 full HD murni, bukan sekedar HD abal abal. Seperti namanya maka camera portable ini memang mungil fisiknya dan sangat ringan karena khusus untuk ditempelkan dengan dudukan khusus buat di helm (motor, sepeda) atau ditaruh disetang, atau bisa di dashboard mobil. Pemakainya adalah kalangan penggemar olahraga ekstrem luar ruang spt motocross, sepeda, surfer, snowboarding, sky diver, fishing, dll. Dan asiknya, semua dilakukan hands free gak ribet.

Sudah sejak lama penggemar olahraga alam bebas menginginkan sebuah alat video cam yg bisa dipakai merekam aktifitas mereka. Begitu banyak alat video cam dicoba dan dipadukan dengan berbagai cara agar fitted dengan semua aktifitas mereka. Masalah terbesar memakai camera video konvensional tentu saja adalah ukurannya yg terlalu besar, dan jika besar bentuknya maka sudah tentu itu berat. Lagipula, jika alat cameranya besar, lantas bagaimana menjepit itu di helm atau disetang? Video cam kelas homeuser jelas bukan pilihan ideal, apalagi banyak diantara alat ini tidak water resistant. Sudah begitu banyak usaha coba coba dijalankan dan jangan tanya banyak juga video cam yg jebol ketika dipakai dilapangan. Sekali hancur maka rusak selamanya. Ini belum lagi soal betapa susahnya mengendalikan focusnya, exposure nya, sampai soal ON/OFF alat kameranya yg sumpah ribet amat. Mengingat semua kesulitan memakai video cam homeuser itu, maka pasar tetap mempunyai minat terhadap adanya satu alat video cam yg bisa dipakai dikalangan olahraga ekstrem, sesuatu yg kuat tapi sangat kecil dan ringan, mudah disangkutkan dimanapun spt halnya Contour HD ini.

Pandangan pertama ketika mendapatkan barang ini adalah mengesankan dari kecil dan bobotnya. Kemasan kotaknya juga keren, dan ketika dibuka dan dipegang tampak finishing barang termasuk bagus. Kualitas casing dari plastik yg kelihatannya tidak kuat amat dan rasanya masih mungkin pecah jika terbentur hebat, tapi lumayan kokoh jika kena benturan ringan.
Hal terpenting dari Contour HD ini dibanding produk helmet cam sebelumnya adalah bukan hanya formatnya yg 1080 full HD yg artinya memberikan kualitas warna dan gambar hebat, tapi juga adanya opsi lain yg akan membantu menjamin kamera akan membuat gambar yg super istimewa (lihat dibawah ini). Kelebihan lain helmet cam satu ini adalah, semua parameter camera bisa diatur memakai software bawaan kamera sesuai dengan kemauan user, dan ini yg tidak ditemui dibanyak helmet cam diera sebelumnya.

Dari sisi teknis dan hasil praktis, alat ini bagus. Dikatakan sempurna sih tidak, tapi untuk kelas helmet cam saat ini terbaik dipasaran jelas Contour HD adalah salah satu yg terbaik. Hasil gambarnya jika dinilai dari kacamata teknis "camera broadcast" jelas sudah bisa dikatakan: layak tayang. Hanya saja harap garis bawahi, jika kalian membeli alat ini tapi mempunyai PC yg lemot maka jangan harap kalian bisa mendownload hasilnya atau melakukan langkah editing, sumpah beraaaat banget karena hasil file videonya sangat-sangat besar. Saya memakai PC dengan prosesor quad core, jadi saya gak punya masalah melakukan transfer file bahkan sampai proses editingnya, ease as a light feather, no problemo at all. Tapi membayangkan hasil ini dipindahkan misal ke netbook, waduh bakalan hang melulu tuh. "Kejelekan" lainnya adalah jika ingin mengaplot hasil editan video ke web atau youtube, benar benar gilaaaa besarnya file. Biarpun file HD dikecilkan sampai ukuran 350x, maka kira kira hasil 1,20 menit saja bisa kemakan 150 - 300 MB. Sungguh bukan perkara mudah mengunggah file video editan dengan koneksi internet dinegeri ini yg bisa dikatakan pas pas an.







Format video tersedia sbb:

Full HD - 1080p (1920x1080)
Tall HD - 960p (1280x960)
Action HD - 720p (1280x720)
Contour HD - 720p (1280x720)
Fast SD - WVGA (848x480)


Frame rate nya (frame per sec) tersedia dua pilihan yakni:
30fps (1080p and 720p), 60fps (720p and WVGA)

Media penyimpanan:
Mini SD 2 GB (paket pembelian), dan bisa diganti hingga 16 GB.

Focusing kamera:
dilakukan memakai dua titik laser pointer, dan memakai lensa semi fish eye 135* lebar.

Battere terpasang:
mampu melayani pemakaian selama 3 jam nonstop tanpa henti. Charging memakai PC/ laptop.

Dibawah ini ada salah satu hasil ujicoba camera, diedit, dikecilkan ukurannya dan kemudian diaplot ke youtube, besarnya file adalah 105 MB. Seperti tampak disana, biarpun sudah direndahkan kualitasnya, toh hasilnya tetap saja masih bagus. ***hsgautama.multiply.com






















Friday, August 17, 2012

Review: VANGO Diablo 600 XP Family Tent

Tenda ini asli super gede. Tenda dome terbesar yg pernah saya coba dilapangan.
Saya sendiri mengenal tenda dome sejak tahun 85an. Konstruksi dome saat itu jelas lebih primitive dibanding tenda modern jaman ini. Jaman dulu, tenda dome paling banter untuk 2 orang plus barang. Bentuknya juga masih norak, tanpa double roof, gak ada deck nya dan jahitan yg tdk bagus (gampang bocor).
Membandingkan dome jaman baheula dan Vango ini seperti bumi langit, baik soal kualitas, maupun ukurannya. Tenda dome manapun yg pernah saya coba ditangan ini rasanya gak ada apa apanya dibanding Vango Diablo 600XP, bablas semua deh.

Vango Diablo 600 XP mempunyai konstruksinya bagus dan rapih, melengkung membentuk kubah yg secara estetika cantik dan sedap dipandang. Dari pengalaman membawa ini dipakai berkemah, siapapun dia yg lewat dari jauh, pasti akan menolehkan kepala melihat kemari. Secara fisik, bentuknya memang mengesankan, besar dan kokoh. Mirip rumah kecil yg berdiri diantara pohon pinus dan cemara hutan. Pernah ada petugas jagawana (forest rangers) yg sampai berhenti berjalan dari ujung jauh, dan mampir mendekat hanya karena ingin melihat isi dalamnya. Begitu pula dengan individu lain yg kebetulan melintas didekat tenda ini. Bentuknya memang aneh, kental dengan konsep geodesic segitiga dengan tunnel kiri dan kanan, lengkap dengan atap terasnya.  Si cantik ini memang memikat hati.

Vango sebetulnya adalah brand dari luar (Scotlandia), termasuk jarang didapatkan ditanah air. Jikapun ada, stoknya pasti sangat terbatas. Siapa cepat dia dapat. Ketika membeli ini, bertepatan dengan bencana tsunami di Pangandaran. Waktu itu kita butuh tenda super besar yg praktis yakni dome, aerodinamis, bisa menampung manusia cukup banyak, atau bisa dipakai menyimpan peralatan kerja. Setelah ditelpon kesana sini, akhirnya ketemu ada yg jual. Seminggu sebelumnya memang sempat lihat barang ini baru datang. Pikir pikir, kenapa tidak mencoba ambil itu saja. Tenda dome lebih praktis dan mudah didirikan ketimbang tenda peleton (tenda pasukan). Tulang lengkungnya yg lentur memudahkan ia diberdirikan (erecting), dipindahkan (digotong), dan dilipat kembali. Dome adalah pilihan mutlak, tidak bisa tidak jika tidak mau kerepotan.  Setelah dapat barangnya, ajegile, beratnya ampuuuun. Membeli dua tenda langsung terasa betapa keduanya sangat berat. Ini memang tenda dome super besar. Wajar jika berat.

























Vango tipe Diablo 600 XP, didesain untuk 6 orang (2 kamar tidur). Tipe Diablo juga tersedia untuk 9 orang (3 kamar tidur). Di Eropa sendiri, tenda ini termasuk kategori best selling family tent. Pembelinya kebanyakan adalah keluarga kecil dengan 3 orang anak. Karena untuk keluarga, biasanya sih lebih mengutamakan kenyamanan, rapat ditiap tekukan sudutnya, aman dari angin-air-serangga, feels like a home, dibanding dengan tenda spesial peruntukan bagi ekspedisi atau lightweight tent. Tenda ini juga lebih stabil konstruksinya, karena itu diperkuat bukan cuma dengan pasak tapi juga bentangan tali.
Soal tali ini memang kembali keselera individu, ada yg tdk suka krn dianggap ribet, ... dan ada yg bilang itu perlu untuk mempertahankan kontraksi atap dan bentuk tenda.

Masuk kedalam Vango tidak perlu merunduk runduk. Badan enak saja melenggang kedalam karena tenda ini didalamnya setinggi 2m. Manusia dewasa Indonesia, bisa dengan leluasa keluar masuk kedalam tenda ini. Pintunya ada dua, satu pintu besar disediakan atap terasnya, dan satu lagi pintu kecil dibagian belakang. Didalamnya terdiri atas ruang tengah yg lebar, dan dikiri kananya ada dua kamar tidur. Kamar tidur tsb memakai double deck dengan posisi gantung shg aman dari hujan atau serangga, pintunya tertutup penuh atau semi terbuka dengan kelambu memakai resleting.  Ruang tengahnya sangat lebar. Saya pikir, disitu bisa masuk 3 motor bebek diparkir berjejer. Jadi, fungsi ruang tengah itu bisa untuk meletakan barang atau untuk memasak. Tergantung, mau ditaruh apa disitu, yg jelas memang sangat lebar.

Vango Diablo mempunyai 2 jendela super lebar dari plastik bening yg dapat ditutup dengan desain pintar mirip dengan tirai. Lalu disetiap kamar juga ada jendela tambahannya. Dijamin, ganti baju didalam tidak akan bisa diintip dari luar oleh org lain. Bahan plastik tenda Protex 3000 durable polyester flysheet (3000mm hydrostatic head)  yg diklaim sulit tersulut oleh api selain kedap air tentunya. Jadi, buat perokok berat, yg biasanya gak tahan didalam tenda tanpa merokok, didalam Vango tampaknya bisa lebih bebas merokok tanpa takut percikan tembakau menyala akan melubangi plastiknya. It’s a good point for me. Hehehe. Bahan yg kuat anti percikan api ini dijamin dengan garansi seumur hidup oleh Vango.

Satu catatan tambahan yg perlu diperhatikan.
Tenda ini pernah berdiri dipesisir pantai di Pangandaran yg panas menyengat, lalu pernah juga dibawa didaerah pegunungan dengan curah hujan tinggi, berkabut dan dingin menggigit. Menariknya, didalam tenda ini suhu panas matahari tidak terasa begitu keras karena desain ventilasinya yg baik. Sedangkan diudara dingin pegunungan, malah kebalikannya, yakni suhu didalam tenda terasa lebih hangat. Beberapa hari yg lalu, Diablo ini sempat diabawa ke Gunung Bunder di Bogor, ketinggian 900m, cuaca sangat dingin dan berangin sangat kencang. Mendirikan ini ditengah angin super kencang memang cukup repot hingga akhirnya erecting sempurna. Suhu dingin diluar tidak terasa ketika diam didalam tenda. Sambil becanda, temen bilang, “Harga emang gak bohong ye, tenda mahal memang bisa menahan suhu panas didalamnya”.  Untung kita bawa ini dan tidur didalamnya, jika tidak siksaan angin diluar akan membuat tubuh lemas akibat kedinginan dihajar angin malam yg kejam.   ***hsgautama.multiply.com


Technical Information .
Weight: 29.5kg
Pack Size: 66x49x30cm
Dimensions: (Internal) 210+400+210 x 240+335 (230)cm
Height: (Inner) 220cm
Colour: Mallard/Mercury; Marine/Lead

http://hsgautama.blogspot.com/search/label/A-SALE







Thursday, August 16, 2012

Garmin ETREX LEGEND CX




























Dari seluruh deretan produk GPS unit merk  GARMIN, tipe ETREX adalah salah satu produk favorit.  Garmin sudah berulangkali mereleased produk terbaru dari GPS mereka, dan keluarga ETREX tetap ada dari jaman ke jaman. Gak ada matinya deh. Etrex merupakan satu ikon tersendiri yg bisa jadi gak bakalan dihilangkan oleh Garmin.

Saya sendiri sudah dua kali memegang tipe Etrex yg berbeda. Pertama kali dulu pernah bawa Etrex kuning. Disebut kuning, karena memang kemasannya berwarna kuning menyala. Tipe ini adalah bagian dari keluarga Etrex yg paling murah dan paling simple. Lalu ketika keluar Etrex Legend CX dipasar, langsung mengambil ini dan sampai sekarang masih dipakai. Terkesan dengan performa bandel Etrex kuning yg sekalipun sangat sederhana dan gak bisa aplot dan donlot peta, tapi GPS kuning meriah itu sangat dependable. Dibawa penjelajahan kehutan, hard assignment, combat zone di borderline, wisata desa, sampai ke jalan jalan ala turis gokil diperkotaan tetap bisa dipakai. Gila ini barang, asli 100% bandel.


Kenapa pilih Etrex?
Alasan paling masuk akal, pertama, produk Garmin adalah brand paling popular disini untuk kelas awam hingga advanced. Dibanding kompetitor selevel, Garmin mudah “dimainkan” karena tersedia dukungan software dan hardware yg user friendly. Ini masuk akal, mana ada yg mau repot kan? Selain itu, memakai produk terpopuler akan memudahkan tukar menukar data. Ini tidak terbantahkan. Bagian menarik disini memang salah satunya adalah “pertukaran data” antar sesama pemakai shg setiap org bisa melengkapi data perjalanan (trek dan waypoint).  Beda brand akan membuat beda pula software untuk mengolah data peta tsb. Karena itu, kelompok mayoritas lebih punya peluang “menguasai” arena pertukaran data antar sesama pemakai.
Alasan kedua, Etrex adalah produk sangat baik dan bandel. Di family tree mereka, Etrex tersedia beberapa tipe yg bisa dibeli sesuai dengan budget masing2 pembeli. Etrex juga cocok banget dipakai buat perjalanan individual atau kelompok, sebuah unit handheld yg cukup mungil, tidak berat, tidak besar dimensi kemasannya. Karena kecil, dia bukan hanya sangat simple diselipkan kesaku celana, tapi juga mudah disangkutkan distang sepeda, atau motor, boat, dashboard mobil.


Etrex Legend CX, salah satu tipe yg ada dikeluarga Etrex. Produk ini secara mencolok punya sisi istimewa tambahan yakni layarnya berwarna dan mempunyai detail resolusi yg halus. Panel untuk recievernya juga lebih peka dibanding pendahulunya, sehingga jika ditaruh didalam ransel kanvas,  unit ini akan tetap menerima signal (asal antenna menghadap keatas, diletakan dikantong bagian atas dan tidak tertindih barang lain).
Etrex Legend CX juga mudah melakukan aplot dan donlot peta. Sebuah opsi bagus karena bisa terus menerus membuat update peta dan perjalanan. Unit ini juga lebih hemat batere dibanding misal Garmin Map 76.  Unit GPS yg boros batere itu tidak baik. Apalagi jika dipakai terus menerus melewati area yg tidak dikenal sama sekali. Habisnya batere sama saja kita kehilangan arah sama sekali. Sampai sekarang, Etrex Legend CX tsb masih setia menemani perjalanan kesana sini, apalagi jika GPS ini dibawa memakai sepeda atau jalan jalan diwilayah terpencil. Darat, laut, udara semua wilayah dilalui dia, suhu terparah yg pernah dijajal barang ini adalah ketika saya bawa kewilayah yg suhunya mendekati -30* C (area sejajar dg Siberia).


Produk Garmin saat ini banyak dijual di Jakarta. Biasanya, penjual alat ini berhubungan dengan computer atau gadet. Mungkin krn saat ini masih booming dan tren, gps lantas menjadi bagian dari gaya hidup org perkotaan. Fungsi ini jelas bergeser dari tujuan awal pemakaian gps, yakni untuk militer, transportasi, atau sesuatu yg berhubungan dengan profesi tertentu. Pilihlah toko yg mau ditanya dengan cerewet mengenai produk ini apabila tidak paham. Saya sendiri pernah dicuekin sama customer sebuah gerai penjual Garmin (konon terbesar dinegeri ini) karena terlalu banyak bertanya.

Hehehe,   attitude penjual yg buruk seperti itu mending ditinggal saja, masih banyak lainnya kok yg jual ini.
Pokoknya pembeli adalah raja.

http://hsgautama.blogspot.com/search/label/A-SALE

http://garmin.com/garmin/cms/site/us/onthetrail/

Pack more detail into your adventure with the eTrex Legend Cx. This popular handheld navigator has a bright color screen and microSD™ card for expandable memory, and it can route you on roads or off, for wherever your travels take you.

Expand Your Memory

Storing data is easier than ever with Legend Cx's included 64 megabyte (MB) microSD card. Just connect to your computer and load optional MapSource® software to view detailed maps of your surroundings. The card slot is located inside the waterproof battery compartment, so you don't have to worry about getting it wet. You can also use optional preloaded microSD cards with MapSource data for your land and sea excursions. Just insert a MapSource card with detailed street maps, and Legend Cx provides turn-by-turn directions to your destination.

Take It Anywhere

Like the rest of the eTrex series, the rugged Legend Cx is WAAS-compatible and waterproof, so it can withstand the elements or an accidental dunk in water.

Other Legend Cx features:

256-color, sunlight-readable display makes it easy to distinguish map details — plus, it looks fantastic
Supports English, Spanish, Portuguese and French languages
Extra-long battery life brings you more hours of outdoor enjoyment
Fast USB computer connection so you can transfer waypoints and other data to your computer
eTrex Legend Cx: This little color navigator goes a long way


Physical & Performance:

Unit dimensions, WxHxD:
4.2" x 2.2" x 1.2" (10.7 x 5.6 x 3.0 cm)

Display size, WxH:
1.3" x 1.7" (3.3 x 4.3 cm)

Display resolution, WxH:
176 x 220 pixels

Display type:
256 level color TFT

Weight:
5.5 oz (156 g) with batteries

Battery:
2 AA batteries (not included)

Battery life:
32 hours

Waterproof:
yes (IPX7)

Floats:
no

High-sensitivity receiver:
no

PC interface:
USB

RoHS version available:
yes

Maps & Memory:
Basemap:
yes

Ability to add maps:
yes

Built-in memory:
no

Accepts data cards:
64 MB microSD card (included)

Waypoints:
500

Routes:
50

Track log:
10,000 points, 20 saved tracks

Features:
Automatic routing (turn by turn routing on roads):
yes

Electronic compass:
no

Barometric altimeter:
no

Geocaching mode:
yes

Outdoor GPS games:
yes

Hunt/fish calendar:
yes

Sun and moon information:
yes

Tide tables:
no

Area calculation:
yes

Custom POIs (ability to add additional points of interest):
yes


Foto dari gpscity


Saturday, August 11, 2012

Akhirnya, nongol muka si Bull...


Menjajal bersepeda di Garut memang enak.  Alamnya keren, pilihan treknya gak ada habisnya,  dan suhunya nyampur bak cendol antara panas banget disiang hari dan dingin mencubit saat malam.  Memang pilihan pas jika mampir kemari untuk bersepeda. Bujukan teman kita Budi Pardiana untuk menginap dikota Garut, terasa buah  “manisnya”.

Setelah semalam menginap di Wisma Rengganis, kami esoknya berangkat genjotan dari tengah kota Garut menuju ke Cipanas.  Kalo dikira kira sih gak jauh amat (total pp dari kota kesana plus keliling kampung sekitar 36 km- an). Paling yg bikin capek adalah panas menyengat dan jalannya nanjak-turun  disana sini , mirip jalur “mini”  puncak di Bogor.  Kulit yg sudah habis dipanggang selama perjalanan “super hot” dijalur Jogja-Puwrokerto menjadi tambah dan tambah geseng ( = gosong).   Biar tampang  item,  “toh idup”   juga hehehe.

Menggambarkan spt apa alam Garut yakni disini penuh lintasan bukit dan lekukan lembahnya melengkung bagus.  Pilihannya banyak, Cipanas adalah salah satunya. Sebetulnya menjajal perjalanan kearah Tasik juga sama kerennya. Jika menuju jalur Tasik, kita akan melewati Kampung Naga, salah satu perkampungan tradisional yg masih memegang adat dan kearifan tua.

Di Kampung Naga,  scenic nya du-du-du cakep banget. Arah sinar matahari yg masuk melewati lembah disana bener bener pas secara fotografi.   Sayang waktu tidak banyak, jadi apa yg ada kita coba saja sebisanya. Cipanas juga bagus kok. Persawahan hijau membentang luas disana. Cipanas sendiri adalah salah satu maskot pariwisata di Garut. Wisatawan banyak datang kesana untuk mencoba menginap dihotel yg menyediakan air panas alami dari perut bumi. Sayang, harga penginapan di Cipanas lumayan bikin geleng geleng kepala (ada kelasnya).  Kalo ditakar dengan daerah lainnya, harga mereka lumayan tinggi.  Buat wisatawan tipe keluarga, area ini memang enak, mungkin karena itu mereka mematok harga yg “kebangetan”. Jadi, jika kalian pengen mencoba berendam dan menginap disini, ada baiknya membawa budget lumayan banyak.

Setelah menginap semalam lagi di Garut,  tiba saatnya kami pamitan pulang menuju Bandung. Secara pribadi saya meninggalkan setumpuk “hutang” kepada keluarga Meina dan Budi Pardiana karena ternyata mereka gak mau dibayar. Jadi menginap plus makan minum itu gak mau dibayar blas.  Rada kaget juga, tapi mau gimana, wong keluarga Meina tetap gak mau menerima bayaran, dan Budi mengatakan gak usah.  Kebaikan hati ini spt jadi hutang, semoga sempat dibalas satu waktu nanti.

Meninggalkan Garut yg penuh sawah hijau dan perbukitan indahnya, kita masuk ke Bandung.
Wah Bandung juga “indah” kok. Disebut indah karena sebagai ibukota propinsi Jabar, tentu saja kota ini adalah kota yg besar dan komplit, apa saja ada disini. Daaan salah satu kehebatan kota ini adalah disini merupakan "gudang" bangunan tua, ... wah menyenangkan melihat itu semua.
Kota ini selalu macet diakhir pekan akibat membludaknya orang Jakarta liburan disana. Kebetulan kita masuk Bandung bukan hari libur, rasanya memang lebih nyaman. Jalanan macet gak segila situasi akhir pekan. Kalaupun ada lalu lintas macet itu karena jalanan diisi oleh ranmor asli penduduk Bandung. Satu lagi keuntungan masuk Bandung bukan dihari weekend adalah polisi disini seperti “hilang” dari sudut  jalan. Sudah bukan rahasia lagi, polisi di Bandung punya hobi khusus  mengincar mobil plat B (Jakarta) yang salah ngambil lajur dijalanan kota.

Jalanan kota Bandung tiap akhir pekan selalu berubah arah. Itu memang kebiasaan mereka mengubah arah jalur jalan yg “k-a-t-a-n-y-a”   untuk mencairkan kemacetan lalin. Alhasil, karena bingung arah jalan berubah, banyak mobil plat B yang salah masuk, dan disitulah mereka dikerjaian oleh oknum polisi yg nakal dengan denda damai, uang rokok, uang gelap, apalah namanya pokoknya biar gak kena tilang resmi.

Dikota ini  kita ketemu dengan teman “penguasa” Bandung, yakni Iwong dan Iman.  Mau jungkir balik di Bandung, yaa tanya saja sama mereka berdua.  Kami janjian makan malam disatu sudut kota yg ada kafe, kita makan sop buntut goreng yg nikmat.  Selesai makan malam, Iwong masih tetap menemani untuk “wisata malam hari” dikota ini.  Mendekati jam 11.00 malam, kita sudah masuk kedalam Ciwalk, salah satu pusat belanja terbaru diruas jalan Cihampelas. Bandung lumayan angot-angotan jika bicara trend, kali ini yg ngetop adalah Ciwalk, Mungkin akhir tahun jika ada tempat baru lainnya yg nongol, Ciwalk bakalan hilang dari listing agenda jalan jalan turis limpahan dari Jakarta.  Karena bukan malam minggu,  Ciwalk tidak begitu rame.  Sukurlah, kelewat rame juga gak enak.

Secara jujur, ketika sampai di Bandung, mendadak semangat untuk genjotan melorot. Mungkin sudah terasa bahwa inilah trip terakhir cuti karena mau gak mau harus kembali kerja lagi.
Faktor lainnya, bisa jadi karena image kota Bandung itu sendiri yg sudah terlanjur dicap sebagai : kota akhir pekan, kota belanja FO, kota jalan jalan dan hura hura. Seharusnya kalo ada dikota ini memang mengerjakan tiga hal itu saja, hehehe. Salah kaprah memang.

Selama 10 tahun terakhir mampir kedalam pusat kota,  belum pernah mencoba bersepeda diruas jalan utamanya. Biasanya sih mencoba jalan jalan disisi Utara atau Selatan. Didalam kota Bandung nya, sumpah belum pernah mencoba dengan sepeda.  Sama saja, kedatangan kali ini kok tetep gak semangat pengen jajal bersepeda didalam kota. Karena itu ketika Iwong ngajak berlibur kerumah Bapaknya di desa Legok Huni, Wanayasa di Purwakarta, kita langsung antusias. Lupakan Bandung Utara atau Selatan,  toh belum pernah sekalipun mampir ke Wanayasa.  Dengan diantar Iwong dan saudaranya Budi, kita segera bergerak ke Purwakarta.

Wanayasa dalam peta,  adalah kota kecil (jika gak bisa disebut:  desa besar)  yg berada diperlintasan jalan antara Purwakarta ke Lembang. Posisinya seperti melewati “atas” bendungan Jatiluhur.  Dia memang terletak lebih tinggi. Dan , desa Legok Huni terhampar disalah satu sudut jalan Wanyasa Raya. Kecil nyaman, dan dipenuhi sawah, kebun teh, atau kebun rakyat.  Rumah keluarga Iwong, adalah sebuah rumah full-set dari kayu jati yg dibuat dg gaya seperti rumah rakyat di daerah Priangan (sunda). Secara ornamen tidak ada yg heboh, tapi bahan bakunya dari kayu jati itu yg membuatnya sangat  isitimewa, dan bangunan ini merupakan cermin adat setempat.  Pintunya dibuat lebih rendah dari kebanyakan pintu jaman kini (itu ada artinya sec ara filosofis),  sederhana dan menarik karena serat kayu jati yg menonjol keluar.

Di Wanayasa, trip yg dijajal pendek saja, cuma 9,5  km pulang dan pergi.  Rutenya dari rumah Iwong nanjak-nanjak terus menuju ke situ (= danau)  Wanayasa. Danau alam yg ditengahnya ada pulau kecil, adalah obyek wisata yg kerap didatangi oleh wisatawan lokal. Suasana disini teduh dan enak. Entah karena mendung, yg jelas memang enak kok.  Rasanya mendadak langsung jatuh hati ingin punya rumah mungil dilereng bukit yg berhadapan dengan danau Wanayasa.  Disini, banyak pemancing dan nelayan jala-tabur yg datang untuk memancing ikan mujair.  Selain di Wanayasa, para maniak pemancing bisa juga datang ketengah kota Purwakarta, karena disitu terhampar danau gede, situ Beuleut.

Akhirnya tiba saatnya pulang ke Jakarta.
Diujung awal hari, saya dan icus berpamitan kepada tuan rumah yg baik hati yakni Iwong dan Budi.

Mereka berdua adalah deretan teman teman yg berbaik hati menemani kami liburan selama cuti kali ini. Selain mereka tentu saja Budi dan Meina di Garut, lalu geng Jogja yakni Teguh, Wahyu, dan mas Eko.  Memang enak punya  teman banyak, jalan kian kemari akan banyak ditolong.

Sore jam 15.00 ketika masuk kedalam rumah, si gila Bull sudah melompat dan berteriak ribut. Raungan si Bull mirip anjing yg gemas karena lama ditinggal pergi. Hehehe, miss u too Bull.  *** hsgautama.blogspot.com

http://hsgautama.blogspot.com/search/label/A-SALE





































Short Visit > Genjot Maning bapake!


Menuju ke Barat kembali, begitulah arah Combi ini bergerak.
Bukannya pengen menyamakan dengan cerita pendeta suci ditemani oleh dewa kera Sun Go Kong, dan kedua kawannya menuju ke Barat untuk mencari pencerahan dalam hidup. Yang jelas, kembalinya kami mengarah ke Barat sama saja dengan cuti kami hampir habis alias masuk kerja lagi.

Rasanya engga rela cuti ini habis (sambil geleng kepala keheranan: kok cepet banget sih cuti habis?). Gua yakin sapapun yg membaca line diatas (apalagi teman kantor) pasti akan marah marah, hahaha. Jujur aja, liburan berikutnya sudah dirancang dikepala ini kok. Esa hilang, dua terbilang, … cuti abis, yaaa cepetan cari liburan lagi.

Kemarin lusa, dari Jogja dengan santai kita masuk ke Purwokerto. Kota ini berkembang luarbiasa pesat. Kaget juga liat isi kotanya begitu besar.

Apa yg terbayang mengenai kota ini adalah lawakan lucu. Iya betul. Lha  orang sini kalo ngomong “jawa ngapak-ngapak”. Pencitraan orang Banyumas dalam kacamata nasional adalah logat dan dialek mereka biasanya digunakan untuk artis lawak. Logat “ngapak-ngapak” dikenal luas di panggung srimulat atau melalui personifikasi mbak Cici  (dikenal dengan nama Cici Tegal ) salah satu artis lawak beken. Mau gak mau kita juga terpengaruh dengan cap begitu ketika jalan jalan dikota ini. Setiap orang yg ditemui disini ngomongnya yaaa begitu. Tawar menawar dengan tukang becak juga diselengi dengan senyum tertahan kami.

Kita: “Bapake, nyong arepe ke mall pira” (hey Pak, kalo aku ke mall berapa duit?”)
Becak: “Biasa bae laaah, patang ewuuu” (bisalah, empat rebu aja)
Kita: “Halah, parek kiye bapake, telung ewu bae laaah” (deket gitu kok, pak, tiga rebu aja).

It has no manner if we make a laugh, really. Hehehe.

Di Purwokerto, kami menyempatkan mampir di “Bendung Gerak Serayu” yang letaknya hanya 30 menit dari pusat kota. Bendungan ini menahan arus laju air dari Sungai Serayu.

Pemandangan disini lumayan apik. Lekukan lereng gunung dan hutan yg melingkupi area ini cantik. Gak kalah dengan pinggul perempuan yg kegenitan melenggok gak ada capeknya. Barisan hutan mempunyai gradasi berlapis. Menggambarkan area ini persis dilukisan cina yg dipenuhi gradasi berlapis dari kumpulan kabut. Sayang area disini termasuk panas menyengat, bukan pegunungan sejuk.

Keasikan main ditepian S.Serayu kami akhirnya kesorean. Sepeda dilipat cepat dan segera menuju kota kecamatan terdekat yg hanya berjarak 15 menit untuk mencari hotel. Kota kecil ini bernama Wangon. Kota ini merupakan pertigaan vital yg menghubungkan Purwokerto – Cilacap – Tasikmalaya (ke Bandung). Karena merupakan pertigaan, gak heran kota kecil ini hidup dari jalur lintas utama. Hotel disini dipakai sebagai penginapan transit.
Nama Wangon mempunyai penafsiran berdasarkan legenda yg tumbuh diorang  setempat. Wangon diduga berasal dari kata “Wangun”. Artinya “pantas”. Arti lainnya, berarti aliran sungai irigasi. Mana yang benar gak tau. Kira kira begitulah maksudnya.

Lepas dari Wangon kami meluncur menuju Garut.
Tepat di kilometer 100 dari Purwokerto yakni perbatasan Mejenang, kami makan siang di resto Pringsewu. Ketika menjejakan kaki masuk kedalam, mendadak saya ditegur ramah bersahabat dari sesorg: “Mas Gautama ya, apa kabar?”. Bengong sesaat, kaget juga ada yg menyapa disini. Ehh taunya kita kenal lama di milis sabtuminggu. Namanya mas Wicak. Email dan tulisan dia kerap terbaca didalam mailbox saya. Gak nyangka kita tatap muka disini, hampir 300 km dari Jakarta, hahaha. Mas Wicak adalah orang yg ramah dan menyenangkan. Chit chat pendek dipintu masuk resto biarpun singkat, toh terasa enak dan bersahabat, seperti teman lama yg hilang 5 tahun.

Malam kami menginap di Garut.
Disini, kami menginap dihotel mungil milik keluarga Meina. Perempuan cantik dan ramah ini adalah “kawan deket” dari koresponden kami diwilayah Tasik, Budi Pardiana. Yaa begitulah arti dari “kawan dekat” hehehehe.
Ketika masuk kekota Garut, dia Meina menjemput kami didepan jalan Ciledug. Dari situ dia membantu kami masuk kearah Wisma Rengganis milik keluarga dia. Sepanjang sore kami banyak ditemani dia ngobrol panjang. Kami harus banyak tanya ini itu buat menyusun perjalanan besok mengitari wilayah ini. Mumpung masih di Garut, apa aja akan kita cobain deh.

Selain ketemu Meina, kita berdua juga ditemani oleh mahluk kecil bernama Jeihan. Sumpe, ini anak lucuuuu abis. Kekeke. I recently fall in love with this kid, her warm smile are trully touch my heart. Jeihan menemani gua mengetik naskah ini sambil tertawa tawa melihat fotonya didalam laptop. Hehehe.

Hsgautama.

http://hsgautama.blogspot.com/search/label/A-SALE



Short Visit > Pusaran waktu di Kotagede


Kotagede adalah lorong waktu tanpa ujung.
Sebuah perkampungan tua nan elok tak lekang digerus waktu yang kejam.

Dalam babad Mataram dikisahkan, bahwa cikal bakal Mataram kuno lahir dari sini, di Kotagede. Disinilah Panembahan Senopati mulai membabat alas (membuka hutan) pertama kali untuk memulai sejarah panjang kerajaan Jawa Mataram. Dibantu Ki Ageng Pemanahan, sang Senopati memulai membangun satu wangsa kuat yang ikut mewarnai sejarah besar di republik ini.

Saat Panembahan Senopati wafat, dia dimakamkan disini juga, dihalaman rumah Ki Ageng Pemanahan. Dalam bangunan makam Panembahan Senopati berdiri mesjid tua yang menjadi pusat mesjid agung Kotagede. Ditilik dari bangunan fisiknya yang luarbiasa tebal tembok dari tumpukan batubata merah, kompleks makam raja besar  Mataram diberi pagar berkeliling yang amat luas.  Kokoh dan menakjubkan secara visual.

Jejak Panembahan Senopati  hingga kini masih bisa ditemui. Banyak peziarah datang mengunjungi makam beliau. Dan beberapa pengunjung  juga menejenguk petilasan (jejak) kedua tokoh besar yang masih disimpan sejak 1509. Salah satunya adalah watu gilang, sebuah batu tempat Panembahan Senopati duduk duduk dirumahnya ketika membabat alas disana. Selain itu masih disimpan batu gatheng (lempar batu) yang merupakan alat bermain raden Ronggo (anak Panembahan Senopati), ketika masih bocah.

Menyusuri Kotagede paling afdhal memang memakai sepeda motor atau sepeda. Jadi, memilih bersepeda adalah pilihan yang sangat tepat.
Perkampungan disini dipenuhi oleh jalanan gang sempit. Mobil tidak akan bisa melewati area ini. Kotagede tidak menarik jika hanya dilalui dari jalan rayanya misal Kemasan, Tegalgendu, dan Mondorakan. Cobalah berbelok masuk kedalam gangnya, disitu baru keliatan betapa tuanya wilayah ini. Bangunan tua amat banyak, sangat banyak tak terhitung. Kotagede termasuk cagar budaya yang tidak boleh diubah semaunya. Sifat orisinalitas wilayah ini dijaga dengan baik selama belasan  abad. Banyak obyek bagus untuk difoto jika memang suka mengamati arsitektur disini.  Disinilah surga  fotografi arsitektur luar ruang yang amat melimpah.

Kotagede tumbuh dengan jalan kecil mirip labirin yang membingungkan penuh persimpangan dan pertigaan. Bukan hal gampang bagi orang asing masuk kedalam gang gang kecil disini. Eksplorasi menarik dan menantang bukan cuma mengamati bentuk fisik bangunan tapi juga mengalami disorientasi arah yang terus menerus. Bingung dimana kita berada dan hendak kemana.  Seperti bingung terjebak dalam lorong ruang waktu yang tanpa putus centang perentang kian kemari. Makin terseret jauh kedalam makin terasa nikmatnya.

Kotagede emang pilihan bagus untuk bersepeda, tidak menyesal jika kemari membawa sepeda. Sungguh.
***** hsgautama.blogspot.com

http://hsgautama.blogspot.com/search/label/A-SALE


"Short Visit" adalah cerita ttg perjalanan cuti dari tgl 05-27 Mei 2007.
Maaf jika komentar engga sempat dibalas krn kami masih dalam perjalanan dimobil
atau terhenti disatu sudut desa. Foto dan blog akan diupdate terus sepanjang perjalanan













































Pedagang Antik dan Barang Jadoel

10 Tahun Dagang Online

10 Tahun Dagang Online

Join Grup Pemancing Fesbuk "Pasarikan", klik foto banner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...