Baca Rules Sisi Kiri Dengan Cermat

Baca Rules Sisi Kiri Dengan Cermat
Showing posts with label indonesiana. Show all posts
Showing posts with label indonesiana. Show all posts

Saturday, April 6, 2019

Mesjid Jami Malang Alun Alun

Menengok mesjid Jami Malang.
Mesjid ini menurut cerita dibangun dibawah pengawasan Bupati Malang Soerjoadiningrat. Prasasti pembangunannya masih terpasang disalah satu pojokan mesjid itu.




Thursday, February 22, 2018

Motor Klasik BMW R27 Tahun 1960–1966

BMW R27 merupakan penerus dari sepeda motor BMW R26, pada tahun 1960 R27 menambahkan kursi karet untuk mesin dan meningkatkan daya hingga 18 hp (13 kW). Periode pembuatan dari tahun 1960–1966 sebanyak 15,364 unit diproduksi.

Mesin 250 cc OHV vertikal tunggal adalah satu-satunya bantalan karet mount mesin thumper BMW yang pernah diproduksi, dan terakhir mereka memakai poros drive motor silinder tunggal. Mesinnya dipompa keluar 18 hp (13 kW), yang tertinggi untuk single BM
W poros-drive.

BMW memproduksi 15.364 model R27 (nomor mesin 372 001 - 387 566) selama tahun-tahun produksi 1960-1966. Beberapa model R27 1966 dijual sebagai model tahun 1967 karena para dealer pada tahun-tahun itu sering kali menetapkan tanggal untuk sepeda motor BMW saat mereka menjualnya. , dan belum tentu saat diproduksi.

BMW melakukan hal yang berbeda dari produsen lain. Ini terbukti di R27. Drive akhir poros tertutupnya jarang terlihat pada motor silinder tunggal. Tapi itu juga memiliki garpu depan Earles triangulasi (dinamai menurut desainer Inggris Ernest Earles); sehingga motor memiliki swingarm depan serta swingarm belakang. Bila ditekan tuas rem depan keras tidak hanya ujung depan yang tidak menukik turun, justru naik sedikit. Dengan demikian, pengereman merupakan aktivitas yang sangat mantap, meski remnya lemah menurut standar sekarang.

Crankshaft mesin diletakkan di depan dan belakang di sisi ke sisi; Ini adalah fitur langka. Dengan cara ini, engkol dan poros terakhir sesuai, dan kekuatan penggerak tidak harus dijalankan melalui serangkaian roda gigi 90 derajat. Juga, kick starter mengayunkan ke samping bukan sejajar dengan frame.

BMW R27 ini diparkir disalah satu pojokan kota Jakarta beberapa bulan silam. Sungguh menyenangkan melihat motor tua dalam keadaan sempurna.  / hsgautama.blogspot.com







Friday, December 29, 2017

Bupati Madiun Brotodiningrat Tercatat Pertama Kali Memakai Pengacara dan Jurnalis Melawan Belanda

Sebuah kisah tentang Bupati Madiun Brotodiningrat, atau mantan Bupati Sumoroto ke 4. Kisah Brotodiningrat ini diceritakan kembali oleh sejarawan Ong Hok Ham dalam esai panjangnya yang diterbitkan Yale University Press, The Inscrutable and the Paranoids: An Investigation into the Sources of the Brotodiningrat Affair (1978).

Brotodiningrat, menurut Ong, adalah pejabat pribumi pertama kali yang menggunakan jasa pengacara dalam berperkara dengan pejabat Eropa) dan bekerja sama dengan beberapa wartawan untuk membuat opini publik di surat kabar agar mempengaruhi suara khalayak luas khususnya di Batavia pusat pemerintahan.

Brotodiningrat kemudian wafat dan dimakamkan di pesaeran Astana Srandil di Sumoroto Ponorogo Jatim. Hingga sekarang, Srandil dijadikan situs sejarah oleh Pemkab Ponorogo.

Kisah Brotodiningrat.

----------

https://tirto.id/isu-makar-dalam-pertarungan-residen-sinting-vs-bupati-apes-cxJ7


Reporter: Ivan Aulia Ahsan

Isu Makar dalam Pertarungan Residen Sinting vs Bupati Apes

tirto.id - Suatu pagi, sesaat setelah bangun tidur, Residen J.J. Donner kaget bukan kepalang. Barang-barang di rumahnya hilang tanpa bekas. Taplak meja, gelas, vas bunga, dan benda-benda lain tidak terlihat lagi di tempatnya. Pada malam 6 Oktober 1899 itu, komplotan maling berhasil menggasak rumah Tuan Residen.

Ada satu benda kesayangannya yang juga ikut lenyap: selembar kain gorden di ruang tempat ia biasa sarapan pagi bersama keluarga. Lenyapnya gorden itulah yang membuat Tuan Residen murka.

Instingnya sebagai birokrat kolonial berpengalaman segera bekerja. Donner, yang saat itu berada di puncak karier sebagai Residen Madiun setelah tiga puluh tahun mengabdi, merasa pencurian itu bukan tindakan kriminal biasa. Ia mencurigai ada motif politik di baliknya, dengan tujuan meruntuhkan wibawa dan mempermalukan pejabat kolonial tertinggi di karesidenan tersebut. Dengan kata lain, pencurian itu adalah subversi (baca: Salah Kaprah Istilah Makar).

Donner dengan cepat memerintahkan Bupati R.M.A. Brotodiningrat, bawahan langsungnya di Kabupaten Madiun, untuk menghadap. Di depan bupati, ia menyatakan bahwa ada upaya menjatuhkan martabat pemerintah kolonial dengan tindakan lancung menggarong rumah seorang residen. Tak cukup hanya itu, ia juga berterus terang menuduh Brotodiningrat sendirilah orang yang patut dicurigai sebagai sumber subversi.

Di titik inilah cekcok antara residen dengan bupati mulai terpantik. Secara tidak langsung, ini juga sebenarnya menjadi simbol pertentangan dan kecurigaan terus-menerus di antara korps Binnenlandsch Bestuur (Pegawai Eropa) dan Inlandsche Bestuur (Pegawai Pribumi).


Kisah Brotodiningrat ini diceritakan kembali oleh sejarawan Ong Hok Ham dalam esai panjangnya yang diterbitkan Yale University Press, The Inscrutable and the Paranoids: An Investigation into the Sources of the Brotodiningrat Affair (1978). Dengan melacak arsip-arsip kolonial akhir abad ke-19, Ong berhasil menemukan suatu fragmen kisah unik yang menggambarkan bahwa kericuhan politik zaman itu bisa saja dipantik dari sesuatu yang remeh-temeh. Mencerminkan betapa paranoidnya kekuasaan kolonial terhadap gerakan politik kaum pribumi.

Paranoia Kekuasaan Kolonial

Selama paling tidak tujuh dekade terakhir, Jawa berada dalam kondisi relatif aman. Perang Jawa (1825-1830) adalah peristiwa terakhir ketika rakyat jelata bersatu dengan para ulama dan bangsawan untuk berperang melawan Belanda.

Memang terjadi banyak pemberontakan petani selama paruh kedua abad ke-19, tapi gerakan-gerakan itu relatif bisa dipadamkan dengan mudah tanpa peperangan. Bagi pemerintah kolonial, Perang Jawa merupakan peristiwa traumatik yang sebisa mungkin dipadamkan sebelum membesar.

Dalam kondisi psikologis macam itu, Donner mengambil kesimpulan awal — tanpa pembuktian yang kuat — bahwa Brotodiningrat merancang plot untuk mengobarkan Perang Jawa kedua. Jelas ini tuduhan yang luar biasa serius. Tuduhan itu terasa sensasional, bahkan jika dilihat dengan ukuran zaman ini.

Donner menganggap Brotodiningrat tidak hanya memiliki jaringan bawah tanah dengan para jagoan lokal di Madiun, tapi juga berhubungan langsung dengan keturunan pemimpin pemberontakan Diponegoro. Lebih dahsyat lagi, ia dituduh menjalin hubungan dengan jaringan internasional anti-Barat yang hendak mengusir Belanda dari tanah Jawa. Salah satunya dengan Kekhalifahan Ottoman dan gagasan Pan Islamisme.

Seorang bupati di sebuah kabupaten terpencil di pedalaman Jawa mempunyai jaringan internasional sehebat itu. Bayangkan! Sang Residen tampaknya sedang bermain-main dengan khayalannya sendiri.

“Fantasi pejabat kolonial itu (Donner) memang tidak mengenal batas,” tulis Ong Hok Ham.

Sumber Tirto.id


Beberapa hari kemudian, Donner menulis laporan kepada Gubernur Jenderal di Batavia. Laporannya panjang dan detail, sampai ratusan halaman, juga ditambahi bumbu-bumbu konspirasi Brotodiningrat sesuai dengan fantasinya. Gubernur Jenderal Willem Rooseboom terkejut dengan laporan panjang itu, sekaligus terkesan dengan “analisis” Donner. Begitu pula Raad van Indie (Dewan Hindia) yang lantas mengusulkan agar dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

Brotodiningrat dongkol atas tuduhan semena-mena itu. Ia berinisiatif melakukan penyelidikian sendiri. Selama satu bulan, ia menggerakkan jaringan weri (mata-mata lokal) untuk menginvestigasi siapa yang berani-beraninya mencuri barang di kediaman Tuan Residen dan membuatnya terancam masalah besar. Si maling akhirnya ditemukan dan dibawa ke rumah Residen.

Tapi kecurigaan kadung menutupi akal sehat Donner. Temuan Brotodiningrat tidak dianggap dan malah semakin keras menuduh. Pandangan Donner diperkuat laporan lain dari jaksa wilayah yang menyatakan Brotodiningrat terindikasi kuat berada di belakang aksi kriminal tersebut.

Tepat pada situasi macam ini, intrik-intrik mulai menemukan tempatnya yang paling liar. Donner menyurati Gubernur Jenderal untuk meminta agar Brotodiningrat dan keluarganya dibuang ke luar Jawa agar penyelidikan yang obyektif bisa dilakukan. Ia juga menghasut bupati-bupati lain di Karesidenan Madiun untuk mengucilkan Brotodiningrat.

Sang Bupati, sementara itu, tidak tinggal diam. Ia melawan usulan Donner dengan cara-cara modern yang mungkin tidak pernah dibayangkan para pejabat di Batavia: menyewa pengacara profesional (berdasarkan catatan kolonial, inilah untuk pertamakali seorang pegawai pribumi menggunakan jasa pengacara dalam berperkara dengan pejabat Eropa) dan bekerja sama dengan beberapa wartawan untuk membuat opini publik di surat kabar.

Salah satu wartawan yang mengangkat isu ini dalam surat kabar adalah Tirto Adhi Soerjo. Dalam rubrik “Dreyfusiana” di koran Pemberita Betawi, ia menurunkan serangkaian reportase tentang kasus ini dan menyuarakan ketidakadilan yang dialami Bupati Madiun.

Brotodiningrat secara terang-terangan menuduh Residen Donner telah melakukan fitnah agar dirinya diseret ke pengadilan dan mencemarkan nama baiknya. Bahkan, ia juga mengirim nota pembelaan kepada Ratu dan Parlemen Belanda di Den Haag.

Tapi bagaimana pun juga, privelese pejabat Eropa lebih penting dari suara seorang bupati pribumi. Batavia mengabulkan permintaan Donner. Brotodiningrat dibuang sementara ke Padang pada 1900 lewat mekanisme kekuasaan istimewa (exhorbitante rechten) yang dimiliki Gubernur Jenderal.

Batavia sebenarnya kebakaran jenggot menghadapi drama residen versus bupati ini. Bagaimanapun juga, para pejabat di Batavia harus menghadapi kenyataan bahwa Brotodiningrat Affair telah menjadi bola liar di masyarakat akibat pemberitaan semakin ramai. Hal yang mati-matian dipertahankan Batavia cuma satu: kewibawaan pemerintah kolonial jangan sampai jatuh.

Karena itulah Batavia mengirimkan penasihatnya yang paling mumpuni, Profesor Snouck Hurgronje, untuk melakukan penyelidikan ulang. Snouck kemudian tidak menemukan fakta apapun tentang konspirasi mengobarkan “Perang Jawa kedua” atau mengusir Belanda dari Jawa.

Ia hanya mengusulkan agar Brotodiningrat dipecat dan dilarang tinggal di Madiun. Perseteruannya dengan Residen Donner telah diketahui secara luas oleh publik. Kewibawaan pemerintah terancam. Apalagi jika kelak terbukti bahwa Sang Bupati tidak bersalah.

Menuruti nasehat Profesor Snouck Hurgronje, Batavia memanggil Brotodiningrat pulang dan memecatnya. Bupati apes ini kemudian memilih Yogyakarta sebagai “tempat pembuangan” karena ia masih terhitung memiliki pertalian keluarga dengan Paku Alam. Pemerintah tetap memberikan uang pensiun yang layak dan berjanji bahwa anak-anaknya tidak kehilangan hak dalam suksesi bupati di Karesidenan Madiun.

Nasib Donner? Ia masih diliputi paranoia meski musuhnya telah dipecat dan tetap melontarkan tuduhan-tuduhan yang mengada-ada. Ia juga masih rewel menuntut pemerintah agar menyelidiki ulang komplotan-komplotan jahat di wilayahnya.

Snouck Hurgronje lalu diperintahkan datang lagi ke Madiun pada Desember 1902. Hasil penyelidikannya pun tetap sama. Tapi kali ini, dalam laporannya, Snouck menambahkan: “Residen telah mencapai titik nervous breakdown sehingga lebih baik dipensiunkan atau dipindahkan.”

Maka pada suatu siang bulan Januari 1903, J.J. Donner, Residen Madiun yang telah bekerja tiga dasawarsa lebih untuk Kerajaan Belanda, akhirnya diberhentikan. Ia pensiun sembari berkalung Orde van Oranje-Nassau—lambang pengabdian kepada Sang Ratu—di dadanya. Pemerintah kemudian mengirimnya pulang ke kampung halamannya. Sejak itu, Donner tak pernah kembali. 

Saturday, August 27, 2016

Menikmati teh poci disaat hujan

Kenikmatan teh poci nasgitel sambil melihat hujan lebat diluar
Teko teh poci dari tanah liat ini dengan bronze ditutup dan cucuknya didapat 1995 an dipelosok Tegal Pemalang Jateng sana. Sudah lama disimpan, dan jadi teman setia menemani acara minum teh panas. Penjual atau pengrajin gerabah teko khas Tegal masih dijumpai disana, tidak banyak tapi masih eksis. Asesoris minum teh ini menjadi pesona kuliner khas diwilayah ini, teh awur awuran (teh rakyat) disuguhkan dalam poci tanah liat dan pakai gula batu sekepalan. Dulu jaman SD ketika mudik bersama keluarga ketimur, biasanya kami istirahat menginap semalam di Tegal. Saat makan malam biasanya dilakukan di alun alun kita semua menyeruput teh poci nasgitel. Anggap saja ini kenangan masa lalu, jadi tetap terbawa sampai tua nanti.  ****hsgautama.blogspot.co.id


Thursday, August 18, 2016

Micro bis ini sempat menguasai jalanan disini Mercedes-Benz O 319

Mercedes-Benz O 319 adalah mobil micro bus ukuran sedang, mirip mobil VW Combi
Dia pernah masuk ke Indonesia tahun 1970an dan menguasai jalanan kota dan antar kota disini. Tahun 1990 an Mercedes-Benz O 319 masih terlihat memenuhi terminal bis kecil dijalur Kerawang Jabar dan melayani rute antar Kabupaten disana. Ketika melihat ini di terminal bis Kerawang (era 90an) disempatkan mampir kedalamnya dan membuat beberapa shot foto. Sayangnya, micro bus yang menjadi angkutan bis di Kerawang dulu itu interiornya dan tampangnya sudah amburadul, maklumlah angkutan umum disini biasanya mmg jelek. Sekarang bis ini sudah lenyap dijalur Kerawang, peremajaan dan perda lokal mengharuskan mobil yang muda dan fit. **** hsgautama.blogspot.co.id

Source
http://forums.pelicanparts.com/off-topic-discussions/685240-mercedes-microbus-o-319-a.html
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Mercedes-Benz_O_319.jpg
https://www.myvan.com/history/mercedes-benz-o-319-oldtimer-bus/
http://bit.ly/2be1u72
http://www.classicweissblau.de/index.php?id=66
https://www.myvan.com/history/mercedes-benz-o-319-minibus/#!







Thursday, March 31, 2016

Transportasi tandu panggul masih ada di Indonesia

Dikota besar mencari angkutan umum bermotor bukan hal sulit. Tapi dibeberapa daerah terpencil dipelosok Indonesia masih ada transportasi panggul dengan manusia. Jenis transportasi ini semacam tandu yang digotong dibahu manusia dan dibawa berpergian kesatu tujuan. Beberapa wilayah terpencil dan bergunung gunung, jenis transportasi ini masih dapat dijumpai. Klien yang pakai jenis angkutan ini adalah orang tua atau orang yang sakit sehingga harus dipanggul oleh manusia lain.
Tampak disini, transportasi taksi panggul yang ada di Mamasa, dekat wilayah Toraja Sulawesi, sebuah wilayah luas dengan area pegunungan yang curam tinggi. Didesa Balapeu Mamasa, penduduk yang sakit harus digotong memakai tandu agar bisa berpergian kedesa tujuan yang jaraknya bisa 3 jam jalan kaki. Bukan perkara mudah untuk menapaki tanjakan terjal disana, dan butuh bantuan dari pria dewasa lain yang punya ketahanan fisik memadai untuk membawa tandu ini **** hsgautama.blogspot.com

https://www.google.co.id/maps/place/Mamasa+Regency,+West+Sulawesi/@-2.9964105,119.3236705,10z/data=!4m2!3m1!1s0x2d9373581fa7088d:0x3030bfbcaf76f40



Wednesday, March 30, 2016

Pasar Tunjungsari Jogja tempat jual beli sepeda seken

Salah satu pasar tua di Jogja adalah Tunjungsari, dibuat sejak 1982 an di jl Mentri Supeno. Pasar ini lokasi jual beli sepeda bekas untuk wilayah sekitarnya. Jogja jaman dahulu memang dikenal sebagai kota sepeda, dan warisan ini tampaknya masih dikenang banyak orang disana. Tahun 70an di Jogja akan terlihat ribuan orang naik sepeda. Jaman ini, dominasi sepeda motor menggeser sepeda kayuh. Tampak foto asal mula pasar Tanjungsari yang sederhana, kini dia sudah dirombak lebih bagus dengan bangunan beton bertingkat. Lantai dasar dipakai memajang ratusan sepeda, sedangkan lantai duanya asesoris sepeda   *** hsgautama.blogspot.com


Saturday, March 26, 2016

Kisah topeng Malangan ditahun 1890 ke 1900 an

Hasil riset tentang kota Malang ada satu data yang cukup menggelitik untuk disimak, yakni masa ketika pertama kali wilayah Malang mengalami pemekaran di era 1890 an, dan dijaman ini topeng malang dikembangkan dengan lebih rapih. Dimasa ini Malang mengalami pertumbuhan besar dan menggeliat secara ekonomi dan politk yang terus berlanjut saat perang kemerdekaan dijaman penjajahan Belanda hingga penjajahan Jepang sampai kemerdekaan. Malang ditahun 1890 dipegang oleh bupati ke 4 yakni Raden Adipati Soerjoadiningrat II 1898-1934 (atau RAA Soerioadiningrat ke 2, atau nama aslinya Raden Bagoes Mohammad Sarip). Dibawah RAA Soerioadiningrat 2, kesenian topeng Malang mengalami kemajuan yang bagus dan diberikan standarisasi yang lebih baik. Soerjoadiningrat yang juga membangun mesjid jami' Malang raya ini, dia bersama abdi dalemnya dikabupaten yang juga seorang dalang Topeng Malang yakni Mbah Reni kemudian memajukan kesenian topeng Malang dan dijadikan acara kesenian resmi di Kabupaten Malang.

Sumber foto:
* Milik keluarga Brotodiningrat
* Koleksi KITLV

Sumber link:  1,   2,

Rangkuman dari link diatas:
Topeng Malang menurut sahibul hikayat muncul dijaman raja Airlangga. Lalu kesenian ini tetap eksis dijaman Ken Arok berkuasa di Singasari.
Berdasarkan beberapa catatan sejarah, Topeng Malang adalah sebuah kesenian kuno yang usianya lebih tua dari Kota Malang rumah tinggalnya kini. Berita tentang adanya istilah drama tari topeng atau atapukan dimuat dalam prasasti Jaha yang berangka tahun 762 Saka atau 840 masehi masih menggunakan sumber lakon dari Epos Ramayana gubahan dinasti raja-raja mataram Kuno abad VIII.
Pada masa kejayaan kerajaan Singasari sewaktu pemerintahan Kertanegara muncul cerita baru dalam seni pertunjukan Topeng yaitu Sastra Panji, abad XIII. Murgiyanto dan Munardi dalam penelitiannya menyebutkan bahwa awal mula dikenalnya tari topeng di wilayah Malang terjadi pada abad ke-13 Masehi, yaitu pada periode pemerintahan raja Kertanegara . Sejak saat itulah seni tari topeng yang berada di daerah Malang dinamakan sebagai tari Topeng Malang.
Adapun bukti mengenai keberadaan tari topeng di masa kerajaan Singosari adalah adanya relief di beberapa
candi peninggalan kerajaan Singosari. Dalam relief tersebut para penari topeng memakai atribut endhong (sayap belakang), rapek (hiasan setengah lingkaran di depan celana, lazim juga disebut pedangan), bara-bara dan irah-irahan (mahkota) yang bentuknya sama dengan kostum tari topeng di masa sekarang.
Menurut catatan Murgiyanto, komunitas tari topeng modern yang tertua adalah di wilayah Tumpang. Kemunculan komunitas ini diawali oleh pengembangan kesenian tari topeng di wilayah kecamatan Tumpang pada pertengahan abad 19-an oleh Mbah Rusman yang terkenal dengan nama Kik Tirto. Nama ini merujuk pada nama Tirtowinoto, dan arti kata “Kik” adalah bapak sehingga nama Kik Tirto berarti bapak dari Tirto . Sekarang di wilayah Tumpang hanya ditemui paguyuban seni tari Mangun Dharmo pimpinan Karen Elizabeth (Ki Soleh)  di desa Tulus Besar dan Sri Margo Utomo di desa Glagah Dowo pimpinan Rasimoen.

Menurut data tertulis serta penuturan dari nara sumber, bahwa antara akhir abad XIX sampai XX di kenal seorang seniman tari dan pengukir topeng yang sekaligus dalang topeng yang bernama Kik Reni (kakek Reni). Pada masa mudanya ia bernama Tjondro. Ia termasuk pegawai rendah (abdi dalem) di lingkungan Kadipaten Malang. Rumahnya di desa Polowijen sebelah selatan Singosari (sekarang kelurahan Polowijen Kecamatan Blimbing kota Malang) (Pegaut, 1938).
Nara sumber mantan murid-murid Kek Reni mengatakan bahwa beliau (Kek Reni) bertugas sebagai dalang wayang topeng di Kabupaten Malang pada jaman Bupati Kanjeng Suryo (yang dimaksud adalah bupati ke 6 bernama Suryo Adiningrat yang menjabat tahun 1898-1934). Pada waktu itu pertunjukan topeng dinyatakan sebagai pertunjukan resmi di pendopo Kabupaten Malang (Supriyanto, 1994:7).

Secara khusus Ong Hok Ham menceritakan tentang Reni yang berkaitan dengan tokoh wayang topeng dari Desa Polowijen, seperti dalam kutipan di bawah ini:
In the 1930's a well to do peasant calletl Reni liveed in this village, he was one of the greatest topeng carvers of the Malang style and led one of the best wayang topeng troupers of his time. In today’s woyang topeng world of Malang the village of Polowidjen is best known as Reni's village. ln his day the wayang topeng
achieved one of its high points. This development was certainly partly due to the patronage of the then bupati of Malang, R.A.A. Soeria-adiningrat, who supplied Reni with his matriali (gold laef, , good paint, wood) and helped set artistik standards (Onghokham. 1972).
Pada tahun 1930-an seorang petani kaya yang bernama Reni tinggal di desa ini (Polowidjen). Dia adalah salah satu pembuat topeng terbesar gaya Malang dan pemimpin rombongan wayang topeng terbaik pada masanya. Di dunia wayang topeng Malang, kini desa Polowijen terkenal sebagai desa Reni.Pada masanya, wayang topeng mencapai salah satu titik puncak.Perkembangan ini tentu saja sebagian disebabkan oleh sumbangan dari Bupati Malang pada waktu itu, R.A.A. Soerio Adiningrat, yang menyuplai Reni dengan bahanbahannya (lempengan emas tipis, cat yang baik, kayu), dan membantu menetapkan standar artistik.
Sejak masa popularitas Reni, pertunjukan wayang topeng di daerah Malang telah tersebar di banyak tempat, khususnya di desa-desa.

Nara sumber mantan murid-murid Kek Reni mengatakan bahwa beliau (Kek Reni) bertugas sebagai dalang wayang topeng di Kabupaten Malang pada jaman Bupati Kanjeng Suryo (yang dimaksud adalah bupati ke 6 bernama Suryo Adiningrat yang menjabat tahun 1898-1934). Pada waktu itu pertunjukan topeng dinyatakan sebagai pertunjukan resmi di pendopo Kabupaten Malang (Supriyanto, 1994:7).

Secara khusus Ong Hok Ham menceritakan tentang Reni yang berkaitan dengan tokoh wayang topeng dari Desa Polowijen, seperti dalam kutipan di bawah ini:
In the 1930's a well to do peasant calletl Reni liveed in this village, he was one of the greatest topeng carvers of the Malang style and led one of the best wayang topeng troupers of his time. In today’s woyang topeng world of Malang the village of Polowidjen is best known as Reni's village. ln his day the wayang topeng achieved one of its high points. This development was certainly partly due to the patronage of the then bupati of Malang, R.A.A.Soeria-adiningrat, who supplied Reni with his matriali (gold laef, , goodpaint, wood) and helped set artistik standards (Onghokham. 1972).



Pada tahun 1930-an seorang petani kaya yang bernama Reni tinggal di desa ini (Polowidjen). Dia adalah salah satu pembuat topeng terbesar gaya Malang dan pemimpin rombongan wayang topeng terbaik pada masanya. Di dunia wayang topeng Malang, kini desa Polowijen terkenal sebagai desa Reni.Pada masanya, wayang topeng mencapai salah satu titik puncak.Perkembangan ini tentu saja sebagian disebabkan oleh sumbangan dari Bupati Malang pada waktu itu, R.A.A. Soerio Adiningrat, yang menyuplai Reni dengan bahanbahannya (lempengan emas tipis, cat yang baik, kayu), dan membantu menetapkan standar artistik.


Friday, March 25, 2016

Insiden Natuna maret 2016

Ada kapal asing mengarahkan moncong meriamnya kekapal kita maka itu adalah ancaman mematikan dan harus dihadapi dengan sikap keras. Jangan lembek.


Kota wisata Batu malam hari diketinggian 950m DPL

Wallpaper kota Batu, boleh dipakai utk kepentingan pribadi saja. Bukan komersial

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (QS: Ali Imran: 190).




Thursday, March 24, 2016

Restorasi foto tua rumah Bale Asri di Kebun Raya Purwodadi Jatim

Rumah ini dulu dibangun oleh Eyang Hoek Samandiman diawal kisaran tahun 1900-an, sebuah rumah dikelilingi lahan kebun yang sangat luas diluar kota Malang, tepatnya di Purwodadi menuju ke Pasuruan Jatim. Belakangan pemerintah meminta lahan disini untuk dijadikan kebun raya Purwodadi, dan tanahnya diberikan ganti rugi dengan perkebunan apel di desa Punten, kota Batu (sampai sekarang masih ada bangunan lamanya dan menjadi sekretariat Svaraseni Nusantara).
Kebun raya Purwodadi adalah merupakan kebun raya yang merupakan saudara dari kebun Raya Bogor dan Kebun Raya Bedugul Bali. Jadi secara fungsi perannya sangat vital sebagai "bank penyimpanan" keaneka ragaman tumbuhan tropis khusus Indonesia. Bisa dibilang. Kebun Raya Purwodadi termasuk kebun raya tua yang pernah dibuat dinegara ini setelah Kebun Raya Bogor. Dia menjadi sister botanical park dalam mata rantai utuh dengan saudara saudara lainnya sesama kebun raya ditanah Jawa, dan juga seluruh Indonesia.

Foto tua ini didapat dari keluarga keturunan Eyang Hoek, difoto oleh Eyang Soerjo Poetranto Mangoennegoro. Sekian puluh tahun tersimpan dialbum keluarga dan kondisinya cukup rusak. Setelah direstorasi akhirnya visualnya bisa menjadi lebih baik. Proses restorasinya cukup melelahkan karena tersebar merata dalam flek cacat micro disana sini. Butuh 60jam kerja merestorasi foto ini sampai dikondisi terbaiknya.    *** hsgautama.blogspot.com




Monday, March 21, 2016

Satu masa ketika Dwarapala penjaga candi Singasari masih terpendam separuh

Dahulu ketika jaman TK-SD pertama kali melihat patung Dwarapala di candi Singhasari (singasari) kondisinya masih separuh terpendah didalam tanah. Itu sekitar tahun akhir 60an ke 70an awal, hampir 40 tahun silam. Kondisinya mirip difoto ini, terpendam nyaris pinggang kebawah. Jadi waktu kecil dulu kita gak tahu seperti apa bentuk ornamen dan ukiran disisi bawah patung penjaga candi Singhasari yang menyeramkan ini.
Ketika bulan Feb 2016 lalu ke Malang sempat mau kemari tapi gagal. Soalnya ada sesepuh yang saya temui disana bercerita bahwa patung ini sudah diangkat utuh dari dalam tanah. Patung ini diangkat sekitar 10 tahun silam. Ceritanya, kata dia, patung dicoba diangkat dengan alat berat crane baja. Apa daya crane itu tidak mampu mengangkatnya dan pengungkitnya patah. Hasil rembugan para sesepuh disana akhirnya memutuskan crane nya disingkirkan, dan diungkit pakai batang batang bambu. Dan anehnya, patung sukses diangkat dari dalam tanah. Setelah diangkat lalu dilakukan reposisi ulang, dan diletakan dilandasan baru yang sudah disiapkan lebih dahulu. Bagaimana bisa bambu mengangkat itu? Hanya Tuhan yang tahu  **** hsgautama.blogspot.co.id 

Foto: KITLV


Saturday, March 19, 2016

Splendid pasar burung dan ikan hias dikota Malang

Nama pasar burung paling unik se Indonesia barangkali cuma satu ini berada dipusat jantung kota Malang Jatim. Namanya pasar Splendid. Letaknya dijalan Tumapel dekat sekali sama bunderan Tugu Malang atau Balaikota (dan stasiun utama KA). Nama ini adalah peninggalan nama lama, dahulu dipojokan bunderan Tugu Malang ada hotel bernama Splendid, sampai sekarang masih ada. Karena itu akhirnya jadi latah nama pasar burung dan ikan hias disini juga diberi nama Splendid.

Secara isi, dia termasuk sangat besar untuk ukuran kota Malang. Letaknya menyatu dengan perkampungan penduduk, jadi dipastikan penjual disana kebanyakan adalah penduduk diwilayah itu. Dibandingkan dengan pasar hewan Pramuka Jakarta, bisa dibilang Pramuka kalah luas. Splendid menyebar meluas dan bukan dibawah satu atap gedung. Kios penjual letaknya ada didalam rumah rumah penduduk, sebagian disulap total jadi kios. Dari semua koleksi isinya, rasanya ada yang kurang yakni kelengkapan penjual reptil disini termasuk tidak ada. Kebayakan memang burung, unggas, atau ikan aneka jenis. Ikan pun termasuk ikan tawar umum, jenis predator yang buas tidak tanpak banyak disini. *** hsgautama.blogspot.com







Tuesday, March 15, 2016

Seni ritual Bantengan dikota Batu warisan era kerajaan Singasari

Kesenian rakyat "bantengan" adalah ritual pertunjukan yang lumayan mistis. Pemain bantengan akan dirasuki oleh tenaga mistis binatang banteng atau kerbau, dan bertingkah laku seperti halnya hewan kerbau. Khusus wilayah kota Malang dan Batu, kesenian ritual bantengan sangat populer sebagai pertunjukan yang kerap ditanggap pada acara acara khusus.

Menurut cerita pinisepuh, kesenian bantengan ini pertama kali dimainkan oleh prajurit infantri dari kerajaan Singasari tahun 1200-1300 yang pusat pemerintahannya memang didekat Malang. Mereka memainkan ini sebagai bagian dari olah latih beladiri pencak silat dan ritual yang dikemas jadi satu. Gerakan liar banteng yang dirasuki oleh kekuatan mistis hewan ini akan menyeruduk dan bertahan (attack and defense) secara bertubi tubi, sekilas posisi ini memang dibutuhkan oleh prajurit saat melakukan gempuran kepada lawan dalam posisi pertempuran jarak dekat.
Dalam prakteknya sekali tampil, bantengan tidak hanya satu saja, tapi bisa sampai beberapa kelompok turut serta. Satu banteng dikendalikan oleh dua pria dewasa, satu orang didepan memegang kepala banteng **** hsgautama.blogspot.com
bertanduk, lalu disisi ekor akan dipegang oleh partnernya. Sekilas ini mirip barongsai yang juga dikendalikan oleh dua orang. Jika diperhatikan, hanya pemegang kepala banteng itu saja yang kerasukan oleh kekuatan mistis banteng. Saat kerasukan gerakan dia akan dikendalikan oleh lecutan pecut yang dipegang oleh sesepuh kelompok, dan pecut inilah semacam tombol pemicu agar banteng beringas bergerak. Sehabis pecut dilecutkan keras diudara, maka para banteng akan mengambil posisi untuk saling beradu kepala. Sebuah pertunjukan yang lumayan keras dan berbahaya. Dalam satu acara di pageralaran Nuswantara Artnival 2016 kemarin di Batu, Bantengan sempat digelar massal dengan melibatkan sekitar 500 orang, sebuah pertunjukan besar besaran yang dikerahkan oleh sesepuh kelompok ini mas Agus.  *** hsgautama.blogspot.com






Pedagang Antik dan Barang Jadoel

10 Tahun Dagang Online

10 Tahun Dagang Online

Join Grup Pemancing Fesbuk "Pasarikan", klik foto banner

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...